Fakultas Peternakan

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Kamis, 22 Juni 2017 - 15:02:07 WIB

Itmamul Khuluq Bangkitkan Peternak Telur Puyuh Boyolali

Diposting oleh : sekretariat
Kategori: Alumni - Dibaca: 881 kali

Itmamul Khuluq, atau biasa dipanggil Khuluq, menjalankan usaha tanpa mengambil keuntungan sepeserpun. Alumni Fakultas Peternakan UGM ini berniat membantu peternak di sekitarnya menjual telur puyuh dengan harga yang layak. Dengan modal seadanya, ia memulai usaha telur puyuh dengan modal usaha sebesar sekitar 150 ribu yang didapat dari hasil menggadaikan mas kawin istrinya.

Membangun Trust Dengan Peternak

Selama 1 tahun berwiraswasta, Khuluq tidak mendapatkan apa-apa. “Pendapatan waktu itu tidak bisa diharapkan. Ini membuat saya diremehkan dan dicemooh oleh orang-orang di sekitar. Kemudian, saya melihat bahwa para peternak di sekitar saya kesulitan memasarkan telur puyuh mereka. Saya berniat membantu mereka dengan membeli telur-telur tersebut dan menjualnya kepada end user. Saya tidak mengambil keuntungan dari penjualan tersebut. Apa yang didapat dari penjualan, itulah yang saya berikan kepada peternak,” katanya ketika ditemui di Fakultas Peternakan, Selasa (13/6/2017). Satu dus berisi 750 butir telur yang biasa dibeli dengan harga 145 ribu, dibeli dengan harga 155 ribu oleh Khuluq. Sejak itu, tertanam dalam benak peternak bahwa harga beli darinya lebih tinggi. Peternak tidak tahu bahwa dirinya sebenarnya tombok karena harus membeli plastik dan mengeluarkan uang transport untuk menjual telur-telur tersebut.

Dari strategi tersebut, secara tidak sengaja ia justru telah membangun trust dengan para peternak. Akan tetapi, semakin lama ia merasa bahwa ia harus bisa hidup dari usaha tersebut. Kemudian, ia menemukan ide untuk menjual telur dengan cara yang berbeda ke lokasi yang berbeda juga. Ia menjual telur ke Semarang dan dari penjualan ini didapat selisih harga. Mulai 2012, Khuluq sudah mendapatkan hasil dari usahanya berjualan telur.

Selain memasarkan telur ke luar kota, Khuluq juga menawarkan produknya kepada pedagang pasar di dekat tempat tinggalnya, Boyolali. “Awalnya saya coba-coba menawarkan ke pedagang-pedagang pasar, tapi rupanya sudah dikuasai oleh pedagang-pedagang lama. Akhirnya, di belakang pasar saya menemukan seorang pedagang kecil yang kesulitan mencari dagangan karena dimainkan oleh pedagang-pedagang di depan. Alhamdulilah, saya bisa menyuplai telur ke pedagang tersebut secara kontinyu,” ungkap pendiri Holstein Indonesia ini.

Keberhasilan Khuluq tersebut dilatarbelakangi oleh prinsip bagaimana barang sesuai permintaan bakul pasar. “Penjual kecil yang saya temui tersebut ingin telur yang mudah dikupas. Lalu saya berpikir, telur yang mudah dikupas adalah telur yang sudah lama. Bobot telur semakin lama semakin berat, ada rongga disitu. Berarti, pedagang tersebut saya beri telur yang usianya lama. Saya pun kemudian mengamati dan menemukan usia telur yang mudah dikupas. Setelah itu, jadi gethok tular (dari mulut ke mulut), telur Mas Khuluq mudah dikupas. Alhamdulilah, akhirnya permintaan 1 pasar bisa terpenuhi,” ujar Khuluq.

Bantuan Modal Melalui Mertua

Untuk mengembangkan usahanya, Khuluq membutuhkan sokongan modal. Pertama, ia mencoba mengajukan kredit di bank. “Melalui bank tidak mempan karena mereka menanyakan kelegalan usaha, laporan keuangan, kelayakan usaha, prospek ke depan, dan punya jaminan apa,” ujar Khulur. Kemudian, ia mencoba cara lain, yaitu dengan mencari investor. Khuluq menghubungi rekan-rekannya yang telah sukses untuk memberikan pinjaman modal. Namun, cara ini lagi-lagi gagal. “Ada satu pertanyaan dari mereka yang saya hubungi, yaitu business plan nya bagaimana? Dari sini saya sadar bahwa saya ga punya materi, proposal, dan sebagainya,” kenang Khuluq. Kemudian, dicobanya cara terakhir yaitu dengan meminta ayah mertuanya yang bekerja sebagai PNS mengajukan pinjaman. Khuluq berpikir, PNS biasanya akan mendapatkan kemudahan dalam pengajuan pinjaman. “Cara yang terakhir ini berhasil. Saya mendapat kredit sebesar 35 juta dan saya angsur setiap bulan selama tiga tahun. Alhamdulilah sekarang sudah lunas, ujar Khuluq.

Perluasan Usaha

Selain menjualkan telur, peternak juga minta tolong untuk disuplai kebutuhan pakan. Dari usaha ini, ia juga tidak mengambil keuntungan. Pakan dijual kembali dengan harga yang sama. Dari kegiatan ini Khuluq tidak mengalami kendala karena telah lama membangun kepercayaan dengan pabrik pakan. Ia terbiasa membayar sebelum jatuh tempo sehingga pabrik memberikan kepercayaan untuk menambah omset pakan dan tambahan tempo pembayaran.

Dalam menjalankan usaha, Khuluq mempunyai hitungan sederhana, yaitu sampai usia tertentu belum mengambil uang lebih dari usaha. “Jadi, sama dengan karyawan-karyawan saya, saya juga digaji, kalau tidak masuk tidak digaji,” kata Khuluq. (Humas Fapet/Nadia)





Rilis Berita