Fakultas Peternakan

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Selasa, 08 Agustus 2017 - 16:15:09 WIB

Pelajari Navigasi: Mahasiswa Fapet UGM Daki Gunung Argopuro

Diposting oleh : sekretariat
Kategori: Kemahasiswaan - Dibaca: 501 kali

Ilmu medan, peta, dan kompas merupakan navigasi pendaki selama melaksanakan pendakian. Agar menguasai ilmu tersebut, enam mahasiswa Fakultas Peternakan UGM (Fapet UGM) yang tergabung dalam Caravan Mountaineering Club (CMC) melakukan pendakian di Gunung Argopuro pada 10-19 Juli 2017. Selain itu, pendakian tersebut juga dimaksudkan untuk mengisi libur semester.

Humaidi Haris selaku ketua pendakian menjelaskan, alat bantu yang digunakan pendaki antara lain meliputi peta dan kompas. “Peta menjadi gambaran proyeksi tempat pendaki berkegiatan. Kompas berfungsi sebagai penunjuk arah sekaligus membantu menentukan lokasi di peta dengan mengamati bentukan medan sekitar kita. Mengamati bentukan medan di sekitar diperlukan untuk memastikan keakuratan lokasi,” jelas pria yang akrab disapa Huma tersebut.

Gunung Argopuro merupakan salah satu gunung di Pulau Jawa dengan jalur terpanjang yang memiliki ketinggian 3.088 mdpl. Argopuro merupakan rumah bagi 16 burung endemik dan 11 burung migran yang jarang dijumpai di daerah lain, misalnya burung Merak, burung Kipasan Mutiara, burung Meninting Kecil, serta satwa lain seperti kera, kucing hutan, dan celeng. Terdapat tiga puncak di Argopuro, yaitu Puncak Rengganis, Puncak Argopuro, dan Puncak Arca atau Hyang. “Dengan jalur yang panjang tersebut, otomatis kami membutuhkan waktu yang lama dalam pendakian. Jadi, tantangan terbesarnya adalah manajemen tenaga dan logistik karena jauh dan lamanya itu,” ujar Huma saat ditemui di Fakultas Peternakan,  Selasa (8/8).

Tantangan tersebut dapat diatasi jika pendaki mengetahui tips-tips seperti yang diutarakan Huma berikut ini. “Pertama, siapkan fisik dan mental dahulu sebelum mendaki. Kedua, bawa kebutuhan pribadi secukupnya, jangan kurang juga jangan lebih, agar bobot bawaannya pas. Ketiga, siapkan logistik secukupnya dan cadangan untuk berjaga-jaga jika lama pendakian bertambah. Keempat, jaga manajemen penggunaan air. Di sana banyak sumber air, tetapi penting untuk tetap mengatur penggunaannya. Kelima, pendaki dapat bertanya kepada petugas basecamp pendakian terlebih dahulu agar mengetahui kondisi gunung yang terkini,” jelas Huma.                

Patuhi Standard Operating Procedure (SOP)

Huma menjelaskan, selain harus menguasai navigasi, pendaki juga harus mematuhi SOP pendakian. Ada tiga hal yang perlu dipatuhi oleh pendaki yaitu knowledge (pengetahuan), equipments (peralatan), dan attitude (sikap). Knowledge meliputi pengetahuan tentang basic mountaineering atau ilmu dasar mendaki gunung, misalnya packing, survival, ilmu medan, peta, dan kompas, mountain sickness, dan lain-lain.

SOP lain yang harus dipatuhi adalah equipments. Beberapa peralatan yang diperlukan pendaki diantaranya adalah balaclava (kerpus sampai menutup telinga), topi yang berfungsi menghindari kontak langsung antara kepala dengan sinar matahari, carrier atau backpack yang nyaman, baju lapangan, sarung tangan, jaket hangat, raincoat, sepatu trekking, cooking set, dan sebagainya. Huma mengamati, banyak pendaki pemula yang masih kurang persiapan dalam hal peralatan. “Peralatan yang dibawa tidak memadai sehingga mereka kemungkinan besar tidak siap menghadapi perubahan kondisi gunung yang tiba-tiba,” ujar Huma.                      

SOP ketiga yang tak kalah penting adalah attitude. “Attitude itu tentang perilaku kita di gunung yang harus mengacu pada kode etik pecinta alam. Keseluruhan SOP tersebut hendaknya ditaati oleh para pendaki. Jika SOP tidak ditaati, risiko yang sering muncul adalah pendaki hilang atau sakit, dan yang paling parah pendaki meninggal,” pungkas Huma. (Humas Fapet/Nadia)                        





Rilis Berita