Fakultas Peternakan

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Selasa, 22 Agustus 2017 - 07:53:20 WIB

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Diposting oleh : sekretariat
Kategori: Dunia Peternakan - Dibaca: 579 kali

YOGYAKARTA– Daging hewan halal yang tidak disembelih secara syar’I, hukumnya haram. Hewan kurban yang belum mati, dilarang untuk dipotong kakinya, ekornya, dan dikuliti. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Halal Center Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanung Danar Dono SPt MP PhD, dalam Pelatihan Penyembelihan Hewan dan Penanganan Daging Qurban yang Higienis, Selasa (15/8) di Kampus Fapet UGM, Yogyakarta.

“Mengapa daging kurban bisa haram? Jika hewan belum mati namun sudah dipotong kakinya, atau dipotong ekornya, atau malahan dikuliti, maka artinya kita memotong kaki binatang atau memotong ekornya, atau mengulitinya hidup-hidup. Hewan bisa kesakitan, dan mati bukan karena disembelih, namun karena kesakitan yang luar biasa,” ujar dia.

Nanung menjelaskan, untuk memastikan bahwa hewan benar-benar telah mati adalah dengan mengecek salah satu dari tiga refleksnya, yaitu refleks mata, refleks kuku, dan refleks ekor. 

Tiga Area

Ia mengatakan, ada tiga area yang dapat dicek untuk memastikan apakah hewan kurban sudah mati atau belum.

Pertama, mengecek refleks mata dengan menggunakan ujung jari untuk menyentuh pupil mata. Jika masih bereaksi atau berkedip, artinya sarafnya masih aktif dan hewannya masih hidup. Namun jika sudah tidak bereaksi lagi, maka artinya hewan mati.

Kedua, mengecek refleks ekor sebagai salah satu tempat berkumpulnya ujung-ujung saraf yang sangat sensitif. 

“Setelah hewan disembelih dan diam saja, kita pencet batang ekornya. Jika ia masih bereaksi, itu artinya sarafnya masih aktif dan hewannya masih hidup. Namun jika hewan tidak bereaksi ketika dipencet-pencet batang ekornya, artinya ia sudah mati,” jelas Nanung yang juga dosen pada Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fapet UGM.

Ketiga, mengecek refleks kuku sebab hewan sapi, kerbau, unta, kambing, dan domba adalah hewan berkuku genap (ungulata). Di antara kedua kuku kaki hewan-hewan tersebut, terdapat bagian yang sangat sensitif. 

“Tusuk pelan bagian itu menggunakan ujung pisau yang runcing. Jika masih bereaksi, artinya hewannya masih hidup. Namun, jika diam saja, artinya ia sudah mati,” jelas dia. 

Selain itu, lanjut Nanung, sering ditemui panitia kurban yang tidak sabar menunggu hewan benar-benar mati. Sehingga, saluran yang menghubungkan antara otak dan jantung (spinal cord) diputus agar hewan cepat mati. 

“Ketika kita menyembelih hewan, darah memancar dari leher depan karena jantung memompa darah keluar. Jantung memompa darah karena ada perintah dari otak. Ketika kabel antara otak dan jantung diputus, hubungan otak dan jantung otomatis akan terputus sehingga jantung tidak dapat memompa darah secara maksimal. Ketika darah tidak keluar secara maksimal, maka akan menjadi timbunan bakteri yang sangat banyak. Akibatnya, daging akan cepat membusuk,” jelas Nanung. 

Selain memerhatikan tiga refleks tersebut, harus diperhatikan juga bahwa dalam menyembelih hewan ternak harus memotong tiga saluran pada leher bagian depan. 

“Proses penyembelihan yang benar harus memotong tiga saluran, yaitu saluran nafas (kerongkongan), saluran makanan (tenggorokan), dan pembuluh darah (arteri karotis dan vena jugularis),” imbuh Nanung.

Pra-Pasca Penyembelihan

Lebih jauh, Nanung menjelaskan bahwa perlu juga dipahami penanganan sebelum dan sesudah penyembelihan. Sebelum menyembelih, katanya, pastikan bahwa pisau sudah diasah setajam mungkin. Amati kondisi visual ternak seperti postur, keadaan wajah (khususnya mata), lubang hidung, dan saluran reproduksi. 

“Penting juga untuk mengistirahatkan ternak sebelum disembelih. Hewan yang stress karena kelelahan atau ketakutan akan mengakibatkan kualitas daging menjadi turun,” ujar Nanung.

Konsep ASUH

Senada dengan itu, Prof Dr Ir Nurliyani MS, dosen Fapet UGM yang juga menjadi narasumber dalam acara tersebut menjelaskan, daging yang baik haruslah ASUH, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. 

Menurut dia, aman berarti tidak mengandung bibit penyakit dan obat-obatan yang dapat mengganggu kesehatan. Sehat berarti memiliki zat-zat yang bergizi dan berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan. Utuh berarti tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan lain. 

“Halal berarti dipotong dan ditangani sesuai dengan syariat agama Islam,” ujar Nurliyani. 

Simpan Daging

Penyimpanan daging, lanjut dia, harus diperhatikan agar kualitas daging tetap terjaga. Sebelum disimpan, daging sapi tidak perlu dicuci karena sifatnya yang kering. Jika dicuci, malah akan membusuk. Setelah dicuci, simpan di freezer dan dimasukkan ke dalam beberapa plastik sesuai takaran konsumsi,” ujar Nurliyani. 

Nurliyani menambahkan, daging sebaiknya tidak dibiarkan dalam suhu ruangan. Selama berada di suhu ruangan, daging dapat ditumbuhi bakteri yang kemungkinan menghasilkan racun. 

“Bakteri bisa mati setelah daging dimasak, tetapi racunnya tetap ada (tidak rusak oleh panas). Daging sapi dapat disimpan di dalam refrigerator jika akan dimasak dalam 3—5 hari, dan simpan di freezer jika masih akan dimasak dalam waktu yang lama. Daging sapi dapat bertahan 4—6 bulan di freezer,” jelasnya.

Untuk pengawetan daging, Nurliyani menyebutkan beberapa teknik seperti penggaraman (salting) dan pemasakan basah. Penggaraman, jelas dia, berfungsi untuk menghambat mikrobia dan memperpanjang umur simpan produk daging. Sementara itu, ada beberapa teknik pemasakan basah seperti merebus, simmering (memasak dengan air panas tetapi tidak sampai mendidih), swissing (memasak daging dengan sedikit air untuk daging empuk), dan mengukus. (gor)

Sumber: http://id.beritasatu.com/home/daging-kurban-disembelih-tidak-benar-hukumnya-haram/164077
Link terkait:
http://investor.id/agribisnis/447466-haram-daging-kurban-yang-disembelih-tidak-benar.html
http://republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/17/08/16/ourbl9330-ini-yang-harus-diperhatikan-saat-menyembelih-hewan-kurban
https://www.ugm.ac.id/id/berita/14530-pakar.ugm:.daging.kurban.harus.asuh

 





Rilis Berita