Perkembangan pariwisata dewasa ini telah bergeser ke tipe pariwisata alternatif yang lebih memperhatikan daya tampung, pendidikan, sosial-ekonomi, dan ramah lingkungan, termasuk merambah ke dunia peternakan atau kehewanan beserta lingkungan yang mendukungnya. Namun, banyak tantangan yang dihadapi dalam pengembangan jenis pariwisata ini, mulai dari isu hak dan kesejahteraan hewan hingga konflik sosial dan degradasi lingkungan.

“Saat ini, atraksi yang mengandalkan hewan sebagai kemasan pariwisata sangat diminati. Namun demikian, dalam penggunaan hewan sebagai basis pariwisata sering kali disalahgunakan dengan tidak mengindahkan kenyamanan dan kesejahteraan hewan, pemaksaan untuk bergerak  dan berperilaku dengan sanksi fisik,” ujar guru besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM.

Hal ini ia sebutkan pada pidato pengukuhannya dalam jabatan guru besar bidang ilmu penyuluhan dan komunikasi Fakultas Peternakan, Rabu (20/9) di Gedung Pusat UGM. Pidato yang ia sampaikan berjudul ‘Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Animal Based Tourism.’

Ia menjelaskan animal based tourism sebagai salah satu tipe pariwisata alternatif yang berobjek pada hewan sebagai daya tarik wisata, hewan sebagai setting dan objek untuk mendaptakan pengalaman dalam sistem kegiatan pariwisata. Aktivitas ABT dapat meliputi tur peternakan, kebun binatang, pertunjukann gajah, lomba burung berkicau, pertunjukan sirkus, dan lainnya.

Banyak hewan yang digunakan dalam pariwisata, jelas Budi, adalah hewan tangkapan, dan biasanya dipertunjukkan sebagai hiburan, tenaga angkut atau pembawa barang, maupun sebagai objek untuk diburu dan ditangkap. Ada juga yang menggunakannya untuk alat kompetisi dan olahraga, dan kadang kala melibatkan atraksi yang sangat berbahaya.

“Ada sekitar 550.000 lebih hewan liar di dunia teraniaya akibat atraksi wisata yang tidak bertanggung jawab. Dan penyalahgunaan atraksi sering terjadi,” ujarnya mengutip data dari berbagai sumber.

Sejalan dengan penggunaan hewan lainnya, Budi menyatakan bahwa ilmuwan ABT dan praktisi pariwisata harus mempertimbangkan moral dan etika ketika menggunakan hewan sebagai daya tarik pariwisata, walau itu untuk tujuan kenyamanan dan hiburan pribadi. Ia menyebutkan beberapa pendekatan kebebasan untuk kesejahteraan hewan di antaranya fokus pada kebebasan dari kelaparan, bebas dari ketidaknyamanan, serta bebas dari sakit atau cedera.

“Kegagalan  untuk menyediakan salah satu dari kondisi ini akan membahayakan kesehatan hewan,” kata Budi.

Untuk mengatasi hal ini, keterlibatan masyarakat lokal serta ahli peternakan perlu ditingkatkan untuk mengembangkan industri pariwisata yang baik dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa ABT memiliki berbagai potensi, seperti meningkatkan pendapatan peternak atau masyarakat lokal, meningkatkan ketertarikan dan permintanaan terhadap ternak lokal, serta melestarikan plasma nutfah hewan yang semakin lama akan semakin punah.

Meski demikian, diperlukan adanya konsultasi, partisipasi, dan kerja sama antara pemerintah lokal, komunitas bisnis, peternak, dan individu untuk mempromosikan atraksi wisata sekaligus melindungi sumber daya yang sudah ada tersebut. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan pemberian pelatihan serta wawasan mengenai atraksi dan hewan itu sendiri.

“Sudah saatnya pemerintah dan juga kita sebagai anggota masyarakat dan ahli hewan menghindari segala bentuk eksploitasi hewan yang tidak menonjolkan sisi edukasi demi kesejahteraan hewan, agar mereka tidak lekas punah di masa depan,” ujar Budi Guntoro. (Humas UGM/Gloria; Foto: Bani)