Tentang UGM
Portal Akademika
IT Center
Perpustakaan
LPPM
Webmail
Bahasa Indonesia
English
Selasa, 08 November 2011 - 14:51:39 WIB

Peternakan Sebagai “Infanteri” Bagi Perkembangan Daerah Tertinggal


Diposting oleh : Administrator
Kategori: Fakultas - Dibaca: 666 kali

Untuk lebih mengembangkan pembangunan di daerah-daerah tertinggal, Fakultas Peternakan UGM bekerjasama dengan Asisten Deputi Sumberdaya Hayati, Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal mengadakan Workshop Nasional pada Kamis (3/11) di Auditorium Fakultas Peternakan UGM.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, SU., DEA, mengatakan bahwa kerjasama ini dilakukan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke 42 Fakultas Peternakan UGM. “Kami peduli dengan daerah tertinggal karena bidang peternakan di daerah tertinggal, tanpa bermaksud mengecilkan bidang ilmu yang lain, ibaratnya adalah “infanteri” bagi daerah tertinggal. Dengan adanya peternakan, nantinya akan timbul efek terhadap sektor lain sehingga diharapkan mampu memajukan daerah tertinggal.” Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa Fakultas Peternakan siap menjalin kerjasama dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dalam hal pengembangan peternakan termasuk pengembangan SDM di daerah tertinggal.

Sementara itu, Asisten Deputi Sumber Daya Hayati Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Drs. Supriadi, M.Si., menyatakan bahwa untuk memajukan daerah tertinggal diperlukan adanya keberpihakan dan terobosan-terobosan baru misalnya dengan pendekatan terpadu. Saat ini, kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal sedang merintis program produk unggulan supaya suatu daerah maju sesuai komoditas unggulannya. Program yang terintegrasi dengan program-progran lain ini bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan melibatkan masyarakat. Menurutnya, peternakan dapat digunakan untuk mendorong pendapatan per kapita ekonomi keluarga dan menimbulkan efek di sektor-sektor lain hingga akhirnya mampu mengentaskan daerah tertinggal. Supriadi lebih lanjut menyatakan bahwa saat ini Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal telah mampu mengentaskan sebanyak 56 dari 144 daerah tertinggal, menaikkan angka IPM hingga 72%, menurunkan angka kemiskinan hingga 14%, dan menurunkan angka pengangguran sebesar 2% per tahun.

Selain workshop, kegiatan ini juga diisi dengan rapat koordinasi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk mengevaluasi efektivitas program yang telah dilaksanakan dalam rangka pengembangan sumber daya hayati di daerah tertinggal. Hadir dalam workshop ini adalah Kepala Dinas Peternakan se-DIY, Asisten Deputi Sumberdaya Hayati, Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dekan-dekan cluster agro UGM, serta dosen-dosen Fakultas Peternakan UGM. (Humas Fapet/Nadia)