Fapet UGM Selenggarakan Pelatihan Manajemen Usaha Peternakan Sapi Skala UMKM Bersama Indonesia-Australia Red Meat Cattle Partnership

Fakultas Peternakan UGM dan Indonesia Australia Red Meat Cattle and Partnership kembali menyelenggarakan Program Pelatihan Pengelolaan Usaha Peternakan Sapi Komersial Skala Kecil pada Senin—Sabtu, 21-26 Maret 2022 bagi 30 peternak yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Pelatihan ini diselenggarakan karena peternak skala kecil menjadi tulang punggung penyedia daging sapi nasional, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas dan kemampuannya dalam pengelolaan usaha peternakan menuju arah komersil. Partisipasi peternak sapi kecil dalam kegiatan ini menjadi salah satu dukungan Fakultas Peternakan UGM untuk mewujudkan swasembada daging di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN. Eng ketika memberikan sambutan dalam pembukaan pelatihan tersebut, Senin (21/3) melalui Zoom Meeting.

“Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan akan daging sapi di Indonesia belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sehingga banyak dilakukan importasi. Maka dari itu, pelatihan ini menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas dan kemampuan peternak sapi komersil skala kecil,” ujar Budi.

Irfani Darma selaku Team Leader ASG (Advisory and Supporting Group)-Indonesia Australia Red Meat Cattle and Partnership berharap, materi yang telah didapatkan oleh peserta dapat diterapkan dan ditindaklanjuti di peternakan masing-masing.

“Hal ini demi kebermanfaatan bersama dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri. Kami juga mengucapkan terima kasih atas terjalinnya kerja sama yang baik dari segala pihak yang terlibat,” ujar Irfani di akhir pelatihan.

Dalam acara yang dilaksanakan secara bauran, yaitu secara online dan offline di Eastparc Hotel Yogyakarta tersebut, peternak berlatih mendalami berbagai teori dan praktik produksi ternak potong, antara lain sistem produksi sapi potong, manajemen pemeliharaan sapi potong, penyiapan pakan, konsentrat dan hijauan tanaman pakan, pengendalian penyakit sapi potong, kesehatan reproduksi sapi potong, identifikasi dan recording, smart farming, pengolahan limbah sapi potong, pemeliharaan ternak, prinsip dasar pengelolaan usaha, perencanaan dan analisis usaha, kesetaraan gender dan inklusi social, membangun kelembagaan dan networking, model kemitraan usaha peternakan sapi potong, dukungan perbankan dalam usaha peternakan sapi, dan jaminan keamanan pemeliharaan.

Selain teori, terdapat juga agenda praktikum dan kunjungan lapangan sebagai benchmarking. Praktikum dilakukan untuk menilai skor ternak, pengolahan limbah ternak, dan praktik mengenai teknologi pengolahan pakan. Kunjungan lapangan bertujuan untuk memberikan gambaran kepada peternak mengenai manajemen pemeliharaan sapi di masing-masing usaha peternakan sapi. Saat kunjungan, para peserta juga berkesempatan melakukan diskusi dengan pemilik atau pengelola usaha peternakan sapi.

Nantinya, untuk mencapai key indicator performance dari kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan, para peserta akan diberi Final Project. Final Project merupakan tugas akhir yang ditujukan bagi seluruh peserta pelatihan yang dikerjakan selama satu minggu setelah pelatihan berakhir. Harapannya, para peserta mampu menerapkan dan mengembangkan dari materi-materi yang telah diperoleh selama pelatihan.

Setelah pelatihan ini, masih akan dilaksanakan juga untuk batch 2 dan 3 dengan tema yang sama. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat meningkatkan aspek komersial dan operasional bisnis peternak kecil melalui praktik manajemen yang baik dan mengarah pada bisnis yang menguntungkan. Selain itu, diharapkan akan adanya jalinan kerja sama antara stakeholder peternakan di Indonesia, sehingga mampu mengurangi permasalahan pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri.

Sebanyak 17 narasumber yang berasal dari berbagai kalangan baik dosen, praktisi, dan pihak kelembagaan yang kompeten di bidangnya turut berbagi ilmunya kepada para peternak. Sebagian peserta pelatihan merupakan peternak mandiri yang berasal dari hampir seluruh wilayah di Indonesia meliputi Aceh, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan Yogyakarta. (Thesa & Lia)

 

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.