Upaya mendorong hilirisasi industri susu nasional dinilai tidak cukup hanya dengan membangun dan meningkatkan kapasitas industri pengolahan susu. Penguatan sektor hulu, khususnya peternakan sapi perah rakyat, harus berjalan secara bersamaan agar peningkatan kebutuhan industri benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan produksi susu dalam negeri.
Pandangan tersebut disampaikan dua pengamat dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Prof. Budi Prasetyo Widyobroto dan Satyaguna Rakhmatulloh, M.Sc.
Prof. Budi Prasetyo Widyobroto menekankan bahwa hilirisasi susu perlu dilihat secara komprehensif. Menurutnya, susu merupakan produk biologis yang dihasilkan melalui ekosistem peternakan yang panjang, mulai dari ketersediaan pakan, sapi yang sehat dan produktif, peternak, proses pemerahan yang higienis, rantai dingin, koperasi, industri pengolahan, distribusi, hingga konsumen.
Oleh karena itu, pendekatan hilirisasi susu tidak semestinya hanya dipahami sebagai hubungan farm to factory, tetapi lebih luas sebagai “from grass to glass”.
“Hilirisasi susu tidak boleh hanya berorientasi pada kesiapan pabrik pengolahan susu, tetapi harus didasarkan pada kesiapan seluruh ekosistem persusuan, terutama kemampuan peternak menyediakan susu secara berkelanjutan,” ujar Prof. Budi, Rabu (7/10).
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi juga tidak semata-mata diukur dari bertambahnya kapasitas pengolahan atau jumlah produk susu yang dihasilkan. Indikator penting lainnya adalah meningkatnya penggunaan susu segar lokal, produktivitas peternak sapi perah, serta nilai ekonomi yang diterima peternak.
Bukan Program yang Terpisah-Pisah
Pandangan senada disampaikan Satyaguna Rakhmatulloh. Ia menegaskan bahwa hilirisasi harus berjalan bersamaan dengan peningkatan populasi sapi perah produktif dan produktivitas per ekor, bukan sekadar menambah jumlah sapi.
Menurut Satyaguna, penambahan populasi sapi belum tentu secara otomatis meningkatkan produksi susu. Potensi genetik sapi baru dapat diekspresikan secara optimal apabila didukung pakan yang cukup, kondisi kesehatan dan kenyamanan ternak, reproduksi yang baik, serta tata kelola peternakan yang benar.
Oleh sebab itu, pengembangan persusuan nasional perlu dibangun sebagai satu ekosistem integral, bukan melalui program-program yang berjalan sendiri-sendiri.
“Menambah sapi belum tentu identik dengan menambah susu,” tegasnya.
Ia menilai sasaran utama pengembangan sektor persusuan harus mencakup peningkatan produktivitas, kesehatan, reproduksi, kualitas susu, dan masa produktif sapi perah. Pada saat yang sama, aspek peternak juga harus diperhatikan, termasuk peningkatan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola peternakan.
Satyaguna juga menyoroti pentingnya penguatan sistem pakan. Ketersediaan hijauan dan konsentrat dengan kualitas serta standar yang sesuai menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi dan risiko kesehatan sapi.
Momentum Memperkuat Peternakan Rakyat
Hilirisasi susu saat ini menjadi semakin strategis seiring meningkatnya kebutuhan susu nasional dan berkembangnya industri pengolahan susu. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi meningkatkan kebutuhan produk susu dalam negeri.
Namun, momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat posisi peternak sapi perah rakyat sebagai bagian utama dari rantai pasok.
Bagi Prof. Budi dan Satyaguna, pembangunan industri pengolahan susu semestinya tidak berjalan sendiri. Peningkatan permintaan industri harus menjadi insentif bagi peningkatan produksi di tingkat peternak.
Dengan demikian, hilirisasi bukan hanya menghasilkan lebih banyak produk susu olahan, tetapi juga menciptakan ekosistem persusuan nasional yang lebih kuat, produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi peternak.
Penulis: Satria
Foto: Magnific.com