Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Skouw Wansa 2026 melaksanakan program pendampingan bagi peternak babi di Kampung Skouw, Jayapura, Papua, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak wabah penyakit babi pada tahun 2025. Wabah tersebut mengakibatkan tingginya angka kematian babi peliharaan milik masyarakat, bahkan babi hutan di sekitar kawasan juga dilaporkan banyak ditemukan mati. Kondisi ini berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat mengingat peternakan babi merupakan salah satu sumber penghasilan sekaligus memiliki nilai sosial dan budaya yang penting.
SDGS 2: Tanpa Kelaparan
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menerima kunjungan tim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia pada Kamis (30/7). Kunjungan yang dipimpin oleh Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenko Bidang Pangan, Fatma Puspitasari, tersebut bertujuan menjajaki peluang kerja sama dalam penyusunan rencana detail pengembangan swasembada susu di sentra-sentra produksi susu di Provinsi Jawa Tengah.
Fatma Puspitasari menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momentum untuk berdiskusi sekaligus melakukan sharing knowledge bersama para akademisi Fapet UGM terkait formulasi kebijakan dan strategi pengembangan industri persusuan nasional.
Para pakar dari Fakultas Peternakan (Fapet) UGM siap melakukan pendampingan program pengembangan ayam kampung yang digagas oleh Pemkab Blora. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fapet, Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., dalam pertemuan dengan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, Minggu (26/7).
“Bersama tim lain dari FEB, Fakultas Teknik dan Teknologi Pertanian kita siap mendampingi agar ayam kampung di Blora berkembang menuju skala bisnis usaha yang ekonomis,”tutur Yuny.
Di sebuah sudut Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, aroma khas kandang bercampur suara kambing dan domba menjadi bagian dari keseharian seorang perempuan muda bernama Mila Arlinda. Di usianya yang belum genap 28 tahun, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) tahun 2021 itu berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 yang kini dikenal luas hingga berbagai daerah di Jawa Timur.
Di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit menghadirkan kesejahteraan, Mila justru membuktikan sebaliknya. Bersama sang suami, Sahroni, ia mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).
Upaya meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah tidak cukup hanya dengan menaikkan produksi susu segar. Peternak harus didorong untuk terlibat dalam proses hilirisasi, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk susu bernilai tambah agar memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Satyaguna Rakhmatulloh, menilai selama ini peternak masih berada pada posisi paling awal dalam rantai nilai persusuan. Mereka hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati sektor hilir yang menguasai teknologi pengolahan, merek, kemasan, dan distribusi.