Budi daya lebah klanceng berpotensi menjadi alternatif usaha produktif bagi masyarakat. Selain tidak memiliki sengat, lebah ini relatif mudah beradaptasi, tidak membutuhkan lahan luas, dan menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti madu, bee pollen, dan propolis.
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Dr. Agussalim, mengatakan hal tersebut pada Kuliah Gratis, Bagimu Petani Periode 12, Jumat (23/10). Ia menjelaskan bahwa lebah memiliki peran penting sebagai penghasil produk bernilai ekonomi sekaligus agen penyerbuk tanaman.
Budi daya lebah klanceng dapat dikembangkan dengan memanfaatkan pekarangan rumah maupun lahan yang belum produktif. Namun, keberhasilannya perlu didukung ketersediaan tanaman pakan, terutama sumber nektar dan polen, seperti kaliandra, akasia, kapuk randu, durian, dan lengkeng.
Selain teknik pemeliharaan, kata Agus, kualitas produk menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha. Kualitas madu dipengaruhi jenis tanaman pakan, kondisi lingkungan, serta kebersihan selama pemanenan dan penanganan pascapanen.
Dari sisi pemasaran, produk lebah klanceng dapat dipasarkan secara langsung maupun melalui kanal digital, seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Kejujuran dalam pemasaran serta konsistensi menjaga kualitas produk menjadi kunci untuk membangun kepercayaan konsumen.
Melalui pengelolaan yang tepat, budi daya lebah klanceng berpeluang menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus mendukung penyerbukan tanaman dan pemanfaatan lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis: Satria