Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) membuka peluang kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Forest Holdings, dalam pengembangan teknologi biosekuriti peternakan melalui pemanfaatan disinfektan inovatif Oxilink. Penjajakan kerja sama tersebut mengemuka dalam presentasi yang disampaikan oleh Toshihiro Nakamura, Manager Corporate Strategy Division Forest Holdings, dan tim di Fapet UGM, Kamis (9/7).
Toshihiro Nakamura menjelaskan Oxilink merupakan teknologi disinfektan yang dikembangkan oleh Oxilink Co., Ltd. dengan memanfaatkan teknologi singlet oxygen. Teknologi ini dirancang untuk memberikan daya sterilisasi yang tinggi terhadap berbagai mikroorganisme penyebab penyakit pada unggas, sekaligus aman digunakan selama proses pemeliharaan ternak.
Menurutnya, industri perunggasan saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti penggunaan disinfektan berbasis klorin yang bersifat korosif, munculnya bakteri yang semakin resisten terhadap bahan kimia tertentu, serta terbentuknya biofilm pada saluran air minum yang dapat menjadi sumber kontaminasi patogen.
Selain digunakan sebagai disinfektan lingkungan kandang, Oxilink juga dapat diaplikasikan pada sistem air minum ternak untuk menekan pembentukan biofilm pada jaringan perpipaan sehingga kualitas air tetap terjaga.
Dekan Fapet UGM, Prof. Budi Guntoro, menyambut positif peluang kolaborasi tersebut. Dalam sesi diskusi, ia menggali lebih jauh mengenai perkembangan pemasaran Oxilink di Indonesia, pengalaman implementasi teknologi tersebut pada industri peternakan, hingga peluang penerapannya di lingkungan akademik.
“Kami tertarik mengetahui sejauh mana teknologi ini telah diterapkan di Indonesia serta potensi pengembangannya. Apabila memiliki dasar ilmiah yang kuat, tentu menarik apabila dapat diuji coba di kandang close house Fapet UGM sebagai bagian dari kegiatan riset dan pembelajaran mahasiswa,” ujar Budi Guntoro.
Ia menambahkan bahwa Fapet UGM senantiasa terbuka terhadap kolaborasi dengan mitra industri, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan peternakan modern.
Penulis: Satria
Foto: Margiyono