Fapet UGM Hilirisasikan Ayam Kampung Bulaksumur melalui Pengabdian Berbasis Kemitraan Multihelix

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) terus mendorong hilirisasi hasil inovasi peternakan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui pengembangan Ayam Kampung Bulaksumur di Kelompok Ternak Ngudi Makmur, Ringinsari, Tamanmartani, Kalasan, Sleman.

Program bertajuk “Sustainable Integrated Native Chicken Farming System: Model Pengembangan Ayam Kampung Bulaksumur Berbasis Kemitraan Multihelix untuk Penguatan Ketahanan Pangan dan Kemandirian Ekonomi di Kelompok Ternak Ngudi Makmur Tamanmartani, Sleman” ini didanai oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM dan dilaksanakan pada Juni–Oktober 2026.

Kelompok Ternak Ngudi Makmur memiliki sebanyak 28 anggota yang menjadi mitra dalam pengembangan sistem budi daya ayam kampung secara terintegrasi. Program tersebut menjadi bagian dari upaya membawa inovasi Ayam Kampung Bulaksumur, yang dikembangkan oleh Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM, agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ketua tim pengabdian, Ir. Riyan Nugroho Aji, S.Pt., M.Sc., IPM, mengatakan program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis peternak, tetapi juga membangun ekosistem produksi ayam kampung yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Program melibatkan kolaborasi lintas unit dan keahlian melalui kemitraan multihelix antara Fapet UGM, Pusat Pengembangan Ternak (PPT) Fapet UGM, serta Kelompok Ternak Ngudi Makmur. Tim juga melibatkan akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM dan Sekolah Vokasi UGM.

Selain Riyan Nugroho Aji, tim pengabdian terdiri atas Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM; Dr. Muhsin Al Anas, S.Pt., IPM; Dr. drh. Vincentia Trisna Yoelinda, M.Si.; serta drh. Morsid Andityas, M.Sc., Ph.D.

Mengembangkan Enam Rantai Produksi

Program pengembangan Ayam Kampung Bulaksumur dirancang sebagai model peternakan terintegrasi yang mencakup enam rantai produksi. Tahapan tersebut meliputi budi daya indukan ayam kampung Bulaksumur, manajemen produksi dan pakan terstandar, penanganan telur fertil, penetasan menggunakan teknologi hatchery, pembesaran DOC hingga siap potong, serta pemotongan dan pengemasan daging dengan memperhatikan standar higiene.

“Peternak tidak hanya diarahkan menjadi pembesaran ayam, tetapi juga diperkenalkan pada sistem produksi yang lebih lengkap dan memiliki nilai ekonomi dari hulu hingga hilir,’kata Riyan, Kamis (17/9).

Program ini juga disusun dalam rencana pengembangan tiga tahun menuju kemandirian kelompok. Pada tahun pertama, program difokuskan pada pembangunan fondasi melalui instalasi unit indukan dan hatchery, pelatihan enam modul teknis, serta pelaksanaan siklus produksi perdana.

Tahap kedua diarahkan pada penguatan kapasitas melalui perluasan mitra pembesaran, sertifikasi produk, dan pembentukan unit usaha bersama. Sementara pada tahun ketiga, kelompok ditargetkan mampu mengoperasikan usaha secara mandiri, mengembangkan pasar, sekaligus mereplikasi model pengembangan ke wilayah lainnya.

Pengembangan Ayam Kampung Bulaksumur melalui program ini diharapkan tidak berhenti pada aspek produksi, tetapi mampu menjadi model peternakan desa mandiri yang berkelanjutan.

Target yang ditetapkan antara lain mencapai produksi minimal 500 DOC per siklus serta meningkatkan pendapatan kelompok sedikitnya 40 persen. Dalam jangka panjang, model tersebut diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sehingga manfaat inovasi peternakan UGM semakin luas.

 

Sumber: Riyan

Editor: Satria

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses