Pukul 03.30 dini hari, ketika sebagian orang masih terlelap, Yuny Erwanto sudah bersiap mengantarkan koran di Miyazaki, Jepang. Setelah salat Subuh berjamaah, ia bersepeda atau mengendarai sepeda motor listrik menyusuri puluhan rumah pelanggan. Pukul 08.00, ia harus sudah bersiap menjalani aktivitas akademik sebagai mahasiswa doktoral.
Kisah itu bermula ketika Yuny, dosen muda Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), menginjakkan kaki di Jepang pada 1999. Ingin memanfaatkan waktu luang sekaligus memperoleh penghasilan tambahan, ia mencari pekerjaan paruh waktu yang dikenal masyarakat Jepang sebagai arbaito.
Bersama Hendra Wibawa, mahasiswa pertukaran pelajar dari IPB, ia mendatangi agen-agen koran. Sempat ditolak di beberapa tempat, Yuny tak menyerah. Di pagi itu ia dan Hendra mendatangi Agen koran harian Miyazaki, ia memberanikan diri menawarkan tenaga.
“Betul mau kerja, di sini?” tanya kepala agen, tampak ragu melihat orang asing yang ingin menjadi pengantar koran.
Yuny meyakinkan bahwa dirinya serius. Kesempatan pun terbuka, meskipun hanya satu orang yang diterima. Hendra mempersilakan Yuny bekerja, karena masa tinggalnya di Jepang hanya setahun.
Sejak 2000 hingga 2003, Yuny menjalani rutinitas tersebut dengan disiplin. Sebulan, ia hanya mendapat satu hari libur. Dengan menangani satu wilayah pengantaran berisi sekitar 70–80 lokasi, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp5 juta per bulan.
Pekerjaan naik turun tangga apartemen apalagi saat musim dingin suhu minus 5 sampai 0 menjadikan hatinya berpikir jauh sampai akhirnya keputusan diambil loper koran untuk naik haji. Motivasi itu memicu semangatnya bahkan mampu menabung dan akhirnya bisa menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada 2002. Pengalaman itu menjadi bukti bahwa pekerjaan sederhana, jika dijalani dengan tekun dan disertai pengelolaan keuangan yang baik, dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian besar.
Namun, cerita Yuny tak berhenti pada dirinya sendiri. Pengalaman menjadi loper koran turut membuka jalan bagi mahasiswa dan warga Indonesia lainnya di Miyazaki untuk memperoleh penghasilan tambahan melalui arbaito. Sejumlah tokoh, pernah ikut kerja sambilan tersebut di antaranya Dr. Nasrullah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta Prof. Deni Noviana, Wakil Rektor IPB, juga pernah ikut bergabung.
Lebih dari sekadar mencari uang, Yuny belajar tentang budaya kerja Jepang: disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab terhadap tugas sekecil apa pun.
Kisah Prof. Yuny Erwanto yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama Fapet UGM ini mengajarkan bahwa kesempatan tidak selalu datang dengan mudah. Terkadang, seseorang harus berani mengetuk pintu, menghadapi penolakan, lalu mencoba kembali.
Dari Miyazaki, ia membuktikan bahwa kerja sambilan bukan sekadar cara mengisi waktu luang. Di tangan orang yang tekun, pekerjaan sederhana bisa menjadi jalan menuju kemandirian, membuka peluang bagi orang lain, bahkan mengantarkan langkah menuju Tanah Suci.
Penulis: Satria