Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menekankan pentingnya penyelarasan tata kelola dan kebijakan perguruan tinggi peternakan dalam menghadapi standar akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Ilmu Pertanian (LAM-PTIP). Hal ini diungkapkan Budi Guntoro saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad), Sabtu (17/1).
Berita Fakultas
Industri susu kambing di Jawa Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan, namun masih menghadapi persoalan utama pada efisiensi rantai pasok. Hal ini terungkap dalam ujian sidang disertasi doktor Program Studi Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) yang disusun oleh Asmaul Khusna, berjudul “Strategi Peningkatan Efisiensi Rantai Pasok Susu Kambing di Provinsi Jawa Timur”, Rabu (14/1).
Penelitian ini dilakukan di tiga kabupaten sentra produksi susu kambing, yakni Banyuwangi, Lumajang, dan Malang, dengan melibatkan 173 peternak kambing perah serta 22 responden pakar. Studi ini bertujuan mengidentifikasi struktur rantai pasok susu kambing, menganalisis efisiensi pemasaran, mengkaji risiko rantai pasok, serta merumuskan strategi peningkatan efisiensi yang berkelanjutan.
Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengajak generasi muda bergerak sebagai pelopor swasembada protein hewani, menjadikan daging dan susu berkualitas sebagai fondasi kekuatan bangsa.
Ketua Badan Kejuruan Teknik (BKT) Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ini menegaskan peran krusial generasi muda Indonesia dalam mewujudkan swasembada protein hewani.
Pernyataan ini disampaikannya saat membuka sarasehan nasional yang digelar di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (15/1). Acara dihadiri oleh perwakilan perguruan tinggi, asosiasi profesi peternakan, BUMN, dan pihak industri dari seluruh Indonesia.
Sapi Bali merupakan salah satu plasma nutfah asli Indonesia yang memiliki keunggulan adaptasi terhadap lingkungan tropis, efisiensi pakan, serta kualitas karkas yang baik. Namun, pengembangan sapi Bali masih menghadapi tantangan, antara lain keterbatasan pejantan unggul dan rendahnya pemanfaatan teknologi reproduksi berbantu seperti inseminasi buatan (IB). Kualitas semen beku menjadi faktor krusial dalam keberhasilan IB, meskipun proses kriopreservasi berpotensi menurunkan kualitas spermatozoa akibat stres oksidatif.
Tantangan dunia peternakan saat ini adalah menemukan pakan hijauan yang produksi tinggi, nutrisi tinggi namun harga terjangkau. Hal ini telah dijawab oleh Fakultas Peternakan (Fapet) UGM. Melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP), Fapet UGM telah berkonstribusi dengan menghadirkan pakan ternak dengan tipe seperti dibutuhkan, antara lain melalui legume Alfalfa Tropik (Medicago sativa cv Kacang Ratu BW) dengan PVT nomor 929/PPVT/ 2021, rumput gajah (Penisetum purpureum cv Gama Umami) dengan PVT nomor 889/PVHP/2020 dan Cikory (Cichorium intybus) masih dalam proses pengajuan PVT.