Dari Vaksinasi Hingga Komunikasi Risiko, Disertasi Doktor Fapet UGM Rumuskan Strategi Pengendalian PMK

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kembali merebak di Indonesia sejak tahun 2022 membuktikan bahwa pengendalian penyakit hewan menular strategis tidak hanya bergantung pada penanganan teknis veteriner. Keberhasilan intervensi seperti vaksinasi massal dan biosekuriti sangat ditentukan oleh dinamika sosial-budaya, persepsi peternak, serta efektivitas strategi komunikasi risiko di tingkat lokal.

Hal tersebut disampaikan oleh Robi Agustiar, mahasiswa Program Doktor Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), dalam riset disertasinya yang berjudul “Analisis Pemangku Kepentingan dan Strategi Komunikasi Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku: Pada Program Australia Indonesia Health Security Partnership”. Penelitian ini berada di bawah bimbingan Tim Promotor Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. (Promotor) dan Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA., IPU., ASEAN Eng. (Ko-Promotor).

Riset yang dilaksanakan pada rentang Agustus 2023 hingga Februari 2024 di tiga provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan D.I. Yogyakarta, menunjukkan bahwa penolakan vaksinasi di tingkat peternak skala kecil tidak sekadar masalah teknis.

“Bukan hanya persoalan teknis tetapi juga dipicu oleh penyebaran misinformasi/hoaks, kekhawatiran akan efek samping atau Kejadian Ikutan Pascavaksinasi (KIPI), kekhawatiran penurunan nilai ekonomi ternak, serta ketiadaan skema kompensasi jika ternak mati pascavaksinasi,”tutur Robi saat mempertahankan disertasinya pada sidang terbuka ujian doktor, di auditorium Fapet UGM, Kamis (3/9).

Selain itu, kata Robi, kendala geografis dan sistem pemeliharaan turut memengaruhi. Peternak di Sulawesi Selatan yang banyak menerapkan sistem penggembalaan lepas menghadapi tantangan akses fisik dan sosial yang berbeda dibanding peternak di Jawa Tengah dan DIY yang umumnya menerapkan sistem kandang intensif.

Aktor Kunci dan Perilaku Pencarian Informasi

Lebih jauh Robi melihat bahwa pemetaan pemangku kepentingan yang dilakukan memperlihatkan bahwa kelompok yang paling dipercaya dan berinteraksi langsung dengan peternak (memiliki pengaruh dan kedekatan tinggi) adalah dokter hewan, paramedis, penyuluh peternakan, inseminator, kepala desa, serta tokoh masyarakat.

Terkait media komunikasi, meskipun akses ke platform digital seperti WhatsApp dan Google cukup tinggi, saluran interpersonal secara tatap muka dengan petugas kesehatan hewan dan penyuluh tetap menjadi sumber informasi yang paling dipercaya oleh peternak.

 

Rekomendasi Strategi Komunikasi Siklus Terintegrasi

Sebagai solusi atas temuan tersebut, disertasi ini merumuskan kerangka strategi komunikasi pengendalian PMK yang terbagi ke dalam tiga tahapan siklus yang berkesinambungan, yakni pra vaksinasi, pelaksanaan vaksinasi dan pascavaksinasi

Seluruh tahapan tersebut dilengkapi dengan kerangka Monitoring dan Evaluasi (M&E) berbasis aktivitas, keluaran (output), hasil (outcome), hingga dampak (impact) guna menjamin keberlanjutan program.

Melalui penelitian studi kasus program Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) ini, promovendus berharap dapat memberikan kontribusi empiris dan akademis bagi perumusan kebijakan kesehatan hewan nasional yang lebih partisipatif, adaptif, dan berbasis pendekatan One Health.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses