Di tengah kampanye global tentang perubahan iklim, peternakan semakin sering ditempatkan sebagai sumber masalah. Daging, susu, dan telur dituding sebagai penyumbang emisi karbon yang signifikan, sehingga muncul seruan untuk mengurangi konsumsi protein hewani. Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., melihat narasi ini berkembang luas di negara maju dan ruang internasional, seolah-olah berlaku universal. Namun, menurut Budi, ketika dilihat dari konteks Indonesia, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya relevan, bahkan berpotensi tidak adil.
SDGS 10: Berkurangnya Kesenjangan
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) terus mendorong peningkatan kualitas pelaksanaan ibadah kurban melalui edukasi kepada masyarakat terkait teknik penanganan hewan dan pengelolaan daging kurban yang halal, aman, ihsan, serta higienis.
Dosen Fapet UGM, Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui pelaksanaan yang benar dan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, hewan kurban harus memenuhi syarat syariat dan kesehatan, mulai dari jenis ternak, umur, kondisi fisik, hingga bebas dari penyakit berisiko zoonosis.
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) secara resmi mengirimkan 20 personel mahasiswa terpilih untuk bertugas sebagai pengawas pemotongan hewan kurban di luar Rumah Potong Hewan (RPH) wilayah Kota Yogyakarta pada 26 hingga 29 Mei 2026. Langkah strategis ini dilakukan untuk menindaklanjuti kerja sama yang telah dijalin dengan Dinas Pertanian dan Pangan Pemerintah Kota Yogyakarta.
“Kegiatan pengawasan teknis dan pembekalan komprehensif ini krusial agar para mahasiswa mampu mengawal proses penyembelihan secara halal sekaligus memastikan penerapan prinsip animal welfare serta pemeriksaan post-mortem berjalan optimal di lapangan,”kata Ketua Jagal Halal UGM, Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., Senin (25/5).
Universitas Gadjah Mada terus memperkuat peran dalam pengembangan teknologi berkelanjutan melalui penyelenggaraan International Summer Course 2026 bertajuk “Sustainable and Green Leather Technology, from Conventional Processing to Bio-Based Innovation” di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM. Kegiatan yang berlangsung dari 18 Mei hingga 5 Juni tersebut menghadirkan berbagai pakar internasional yang membahas inovasi teknologi kulit ramah lingkungan hingga pemanfaatan genomik untuk sistem peternakan berkelanjutan.
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menggelar kegiatan Summer Course bertajuk “Sustainable and Green Leather Technology: From Conventional Processing to Bio-based Innovation” sebagai upaya mendorong pengembangan teknologi pengolahan kulit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kegiatan ini terselenggara melalui dukungan program Erasmus dan kolaborasi industri.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan summer course ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran global mengenai pentingnya praktik industri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.