Universitas Gadjah Mada terus memperkuat peran dalam pengembangan teknologi berkelanjutan melalui penyelenggaraan International Summer Course 2026 bertajuk “Sustainable and Green Leather Technology, from Conventional Processing to Bio-Based Innovation” di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM. Kegiatan yang berlangsung dari 18 Mei hingga 5 Juni tersebut menghadirkan berbagai pakar internasional yang membahas inovasi teknologi kulit ramah lingkungan hingga pemanfaatan genomik untuk sistem peternakan berkelanjutan.
Salah satu materi utama disampaikan oleh Prof. Wiratni Budhijanto dari Fakultas Teknik UGM yang mengangkat pentingnya pengelolaan limbah industri kulit secara berkelanjutan melalui konsep ekonomi sirkular. Dalam paparannya, Wiratni menegaskan bahwa masa depan industri kulit tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang dihasilkan, tetapi juga kemampuan industri dalam mengelola limbah secara cerdas, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan.
Industri penyamakan kulit global saat ini masih didominasi teknologi penyamakan kromium yang mencapai sekitar 80–90 persen produksi dunia. Proses tersebut menghasilkan limbah padat dan cair dalam jumlah besar setiap tahunnya. Dari 1.000 kilogram kulit mentah, hanya sekitar 200 kilogram yang menjadi produk kulit jadi, sedangkan sisanya berubah menjadi limbah.
Selain itu, limbah kromium berpotensi berubah menjadi Cr(VI) atau kromium heksavalen yang bersifat toksik dan berbahaya bagi lingkungan. Karena itu, diperlukan perubahan paradigma dalam pengelolaan limbah industri kulit, dari sekadar membuang limbah menuju pemulihan sumber daya (resource recovery).
Berbagai pendekatan pengolahan limbah diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari teknologi termal seperti pirolisis dan gasifikasi, pengolahan kimia dan biologis, hingga sistem pemulihan sumber daya terintegrasi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya industri kulit berbasis ekonomi sirkular dan bioekonomi berkelanjutan.
Sementara itu, Sobur Ahmed dari University of Dhaka membahas proses wet-end dan finishing pada industri kulit. Ia menjelaskan tahapan pasca penyamakan seperti netralisasi, pewarnaan, retanning, hingga finishing yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas, daya tahan, dan tampilan produk kulit.
Selain teknologi kulit berkelanjutan, summer course juga menghadirkan materi tentang inovasi genomik peternakan yang disampaikan oleh Nigatu Ayele Adossa dari International Livestock Research Institute. Dalam paparannya, Nigatu menjelaskan pentingnya eksplorasi keragaman genetik ternak Afrika untuk mendukung ketahanan pangan, produktivitas ternak, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Penulis: Satria