Tim Fapet UGM Menggelar FGD Pengembangan Industri Persusuan Rakyat di Boyolali

Subsektor peternakan sapi perah rakyat memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya melalui penyediaan susu sebagai sumber pangan bergizi bagi masyarakat. Namun, upaya pengembangan usaha sapi perah yang berkelanjutan masih menghadapi berbagai tantangan, baik pada aspek produksi, penyediaan sarana dan prasarana, penguatan kelembagaan, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, diperlukan identifikasi permasalahan secara komprehensif serta perumusan rekomendasi yang tepat melalui keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam forum diskusi yang partisipatif.

Dalam rangka mendukung upaya tersebut, tim peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) yang terdiri atas Prof. Budi Guntoro, Prof. Budi Prasetyo Widyobroto, Dr. Tian Jihadhan Wankar, dan Agung Triatmojo, M.Sc. melaksanakan penelitian mengenai keberlanjutan usaha peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Boyolali. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian penelitian tersebut adalah Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam industri persusuan.

FGD dihadiri oleh perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, industri pakan ternak NUFEED, peternak sapi perah, pengurus koperasi, pengepul susu, industri pengolahan susu, lembaga perbankan, serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesehatan Hewan. Kehadiran berbagai pihak tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai kondisi aktual industri persusuan di Kabupaten Boyolali, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan peluang pengembangannya di masa mendatang.

Hasil diskusi menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah permasalahan yang menjadi tantangan bagi keberlanjutan usaha peternakan sapi perah rakyat, terutama dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi perah dan produksi susu nasional. Beberapa isu utama yang teridentifikasi meliputi rendahnya mutu genetik ternak, terbatasnya kepemilikan lahan untuk penyediaan hijauan pakan, tingginya harga konsentrat dan bahan baku pakan, keterbatasan ketersediaan air, rendahnya regenerasi peternak, perlunya standardisasi kualitas susu, serta belum optimalnya sistem penetapan harga susu yang memberikan insentif memadai bagi peternak.

Di sisi lain, aspek permodalan dinilai bukan merupakan hambatan utama dalam pengembangan usaha peternakan sapi perah rakyat. Perwakilan lembaga perbankan, antara lain BRI, Bank BPD Jawa Tengah, dan Bank Boyolali, menyampaikan bahwa akses pembiayaan bagi peternak pada umumnya masih terbuka dan dapat difasilitasi sepanjang persyaratan administratif serta kelayakan usaha dapat dipenuhi. Selain itu, tingkat kredit bermasalah (non-performing loan) pada sektor ini relatif rendah, dengan proporsi nasabah yang mengalami kendala pengembalian pinjaman hanya sekitar 3 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Produksi Ternak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali menjelaskan bahwa keterbatasan jumlah SDM di lingkungan dinas masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi optimalisasi pelayanan dan pendampingan teknis kepada peternak di lapangan. Kondisi tersebut menuntut peningkatan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dalam mendukung pembangunan peternakan daerah.

Perwakilan peternak dan pengurus koperasi juga menyampaikan harapan agar perguruan tinggi dapat semakin berperan aktif dalam pengembangan industri persusuan di Kabupaten Boyolali. Peran tersebut mencakup pendampingan penerapan teknologi dan inovasi pada usaha peternakan rakyat, pemberdayaan masyarakat, perbaikan tata kelola produksi, serta peningkatan kapasitas dan keterampilan praktis peternak guna menghadapi dinamika dan tantangan usaha di masa depan.

Meskipun berbagai permasalahan masih dihadapi, seluruh peserta FGD, baik dari unsur pemerintah maupun pelaku usaha, memiliki optimisme bahwa tantangan tersebut dapat diatasi melalui sinergi dan kerja sama yang erat antar pemangku kepentingan. Tim peneliti menilai bahwa Kabupaten Boyolali memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung program nasional peningkatan populasi sapi perah dan produksi susu dalam negeri.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan dukungan yang berkelanjutan melalui peningkatan fasilitas dan sarana produksi, penyediaan pakan berkualitas dengan harga yang terjangkau, penguatan akses pembiayaan usaha peternakan, serta perbaikan ekosistem industri persusuan rakyat secara menyeluruh. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan keberlanjutan usaha peternakan sapi perah rakyat dapat semakin terjamin, sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan kesejahteraan peternak dan ketahanan pangan nasional.

 

Sumber: Budi Guntoro

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses