Mahasiswa WUR Belanda Bagikan Pengalaman Mengelola Peternakan Organik dan Produksi Keju di Perancis

Mahasiswa S2 di Wageningen University & Research, Belanda, Siep Jossi Missaar, berbagi pengalaman mengenai pengelolaan peternakan sapi perah organik dan produksi keju dalam sharing session yang diikuti para asisten laboratorium di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Senin (11/5). Kegiatan ini diikuti dosen dan asisten Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Hewan Kesayangan serta asisten Laboratorium Ilmu Ternak Perah dan Industri Persusuan.

Dalam paparannya, Siep menjelaskan bagaimana sistem peternakan organik di Perancis (tempat tinggalnya sejak kecil) dijalankan secara berkelanjutan dengan mengedepankan kesehatan ternak, kualitas pakan alami, dan standar higienitas tinggi dalam produksi susu maupun keju.

“Peternakan yang baik tidak hanya fokus pada produksi susu yang tinggi, tetapi juga bagaimana menjaga kesehatan hewan, kualitas pakan, dan proses produksi yang higienis agar menghasilkan keju berkualitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peternakan yang dimilikinya memiliki luas sekitar 110 hektare dengan sekitar 110 ekor ternak, termasuk 60 sapi perah laktasi. Dalam setahun, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 200 ribu liter susu, di mana sebagian besar diolah langsung menjadi keju di tingkat peternakan.

Menurut Siep, salah satu keunikan peternakan tersebut adalah penggunaan 14 bangsa sapi berbeda dengan sistem pakan berbasis lahan pastura tanpa tambahan silase maupun pakan impor.

“Kami menggunakan sistem penggembalaan dan hay sebagai pakan utama. Hal ini penting untuk menjaga kualitas susu dan cita rasa keju,” jelasnya.

Dalam sesi tersebut, Siep juga menjelaskan proses pembuatan hay atau rumput kering yang menjadi salah satu tahapan penting dalam menjaga ketersediaan pakan berkualitas. Proses tersebut sangat dipengaruhi kondisi cuaca karena rumput harus memiliki tingkat kekeringan yang tepat agar tidak berjamur namun tetap menjaga kandungan nutrisinya.

Selain itu, ia memaparkan tahapan produksi keju mulai dari pemanasan susu, penambahan kultur bakteri dan rennet, pembentukan curd, pencetakan, penggaraman, hingga proses pematangan keju pada suhu dan kelembapan tertentu.

“Produksi keju membutuhkan ketelitian tinggi karena kualitas susu akan sangat memengaruhi hasil akhir keju,” katanya.

Siep juga membandingkan sistem peternakan organik dengan peternakan sapi perah konvensional di Eropa yang umumnya lebih intensif dan menggunakan pakan silase serta konsentrat untuk meningkatkan produksi susu.

Menurutnya, sistem organik memang menghasilkan produksi susu yang lebih rendah dibanding peternakan intensif, namun memiliki nilai lebih dari sisi keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan hewan, dan kualitas produk.

Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., alumnus S2 dan S3 dari WUR, mengatakan melalui sharing session tersebut, para peserta mendapatkan gambaran mengenai praktik pengelolaan peternakan modern berkelanjutan serta pengalaman studi dan kehidupan di Eropa, khususnya dalam bidang peternakan dan industri persusuan.

 

Penulis: Satria

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses