Kemenko Bidang Pangan RI Jajaki Kerja Sama dengan Fapet UGM untuk Pengembangan Swasembada Susu Nasional

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menerima kunjungan tim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia pada Kamis (30/7). Kunjungan yang dipimpin oleh Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenko Bidang Pangan, Fatma Puspitasari, tersebut bertujuan menjajaki peluang kerja sama dalam penyusunan rencana detail pengembangan swasembada susu di sentra-sentra produksi susu di Provinsi Jawa Tengah.

Fatma Puspitasari menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momentum untuk berdiskusi sekaligus melakukan sharing knowledge bersama para akademisi Fapet UGM terkait formulasi kebijakan dan strategi pengembangan industri persusuan nasional.

“Kami ingin belajar dan berdiskusi mengenai formulasi pengembangan susu yang tepat sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan rencana pengembangan swasembada susu di Indonesia,” ujarnya.

Dekan Fapet UGM, Prof. Budi Guntoro, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, Fapet UGM siap berkontribusi melalui riset, inovasi, serta pendampingan kepada pemerintah dalam memperkuat sektor peternakan, khususnya industri susu nasional.

Ia menjelaskan selama ini Fapet UGM telah menjalin berbagai kerja sama dengan mitra industri, salah satunya bersama Global Dairy Alami (GDA) di Subang yang saat ini juga tengah merencanakan perluasan investasi di Kabupaten Brebes.

Dalam diskusi, beberapa peneliti dari Fapet memberikan masukan. Prof. Budi Prasetyo Widyobroto, menekankan pentingnya dukungan dan intervensi pemerintah dalam mempercepat peningkatan produksi susu nasional. Menurutnya, hingga saat ini produksi susu dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional sehingga diperlukan kebijakan yang mampu mendorong peningkatan populasi ternak perah, produktivitas, serta penguatan ekosistem industri susu.

Sementara itu, Prof. Widodo menilai pengembangan industri susu harus berorientasi pada kebutuhan pasar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menurutnya, menjadi momentum strategis untuk meningkatkan permintaan sekaligus mendorong pertumbuhan industri persusuan nasional.

“Apapun bentuk olahannya, yang paling penting adalah market. Program MBG merupakan momentum yang sangat baik. Produksi susu dapat dioptimalkan baik dalam bentuk susu pasteurisasi, UHT maupun susu formula sesuai kebutuhan pasar,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Yuni Suranindyah turut menyoroti besarnya potensi pengembangan susu kambing di Indonesia. Menurutnya, susu kambing memiliki nilai gizi dan prospek pasar yang menjanjikan. Namun demikian, hingga saat ini nilai jual di tingkat peternak masih relatif rendah sehingga diperlukan strategi pengembangan rantai nilai dan penguatan pasar agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses