Fapet UGM dan BRIN Raih Paten Formula Pakan Ruminansia Berbasis Bungkil Biji Nyamplung

Bungkil biji nyamplung (Calophyllum inophyllum) merupakan salah satu alternatif pakan baru untuk ternak ruminansia karena mengandung kadar protein yang tinggi. Bungkil biji nyamplung merupakan produk sampingan dari minyak tamanu yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang sedang berkembang di Indonesia. Menurut dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Dr. Dimas Hand Vidya Paradhipta, sebagai produk sampingannya produksi bungkil biji nyamplung ini terus meningkat seiiring dengan meningkatnya permintaan minyak tamanu.

“Bungkil biji nyamplung memiliki palatabilitas yang rendah dan ketengikan yang tinggi karena konsentrasi lemak yang tinggi. Bungkil biji nyamplung masih mengandung metabolit sekunder tanaman dengan konsentrasi tinggi yang berpengaruh terhadap bau, sehingga dapat mengurangi palatabilitas pada ternak ruminansia,”kata Dimas, Senin (27/7).

Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti dari Fapet UGM bersama dengan Kelompok Riset Pemuliaan Tanaman Biofuel BRIN mengembangkan produk olahan bungkil biji nyamplung menjadi pakan ternak ruminansia. Mereka yaitu Dr. Dimas Hand Vidya Paradhipta selaku ketua tim, Prof. Ali Agus,  Prof. Chusnul Hanim (dari Fapet UGM) serta Prof. Budi Leksono, Aziz umroni, dan Sinta Maharani (dari BRIN).

Menurut Dimas, bungkil biji nyamplung tersebut dibuat menjadi konsentrat fermentasi untuk meningkatkan kecernaan dan kualitas pakan. Penelitian yang dilakukan telah mendapatkan Paten Sederhana dengan Judul “Formula Konsentrat Fermentasi Pakan Ternak Ruminansia Berbahan Utama Bungkil Biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum)” dengan Nomor Paten IDS000013187 yang diberikan pada 5 Mei 2026.

“Paten ini memuat informasi terkait formulasi dan metode untuk membuat fermentasi berbasis bungkil biji nyamplung untuk pakan ternak ruminansia,”imbuhnya.

Formulasi yang digunakan memadukan bungkil biji nyamplung dengan bahan pakan lokal untuk memenuhi kebutuhan ternak. Metode fermentasi  melibatkan mikroba kompleks seperti bakteri asam laktat, yeast, dan bacillus untuk membantu meningkatkan kecernaan konsentrat berbasis bungkil nyamplung. Kadar air pada konsentrat dan lama fermentasi menjadi salah satu faktor utama untuk mengakselerasi kinerja mikroba untuk menghasilkan peningkatan kecernaan maksimal dan pertumbuhan probiotik yang optimal bagi ternak.

 

Sumber: Dr. Dimas

Editor: Satria

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses