Kemarau Panjang, Fapet UGM Bagikan Strategi Menjaga Hijauan Pakan Tetap Produktif

Kemarau panjang dapat mengancam keberlangsungan lahan hijauan pakan ternak, terutama di wilayah dengan curah hujan rendah dan tidak merata. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan budi daya yang tepat agar tanaman tetap bertahan hidup dan mampu kembali produktif setelah hujan turun.

Dr. Miftahush S. Haq dari Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menjelaskan, selama puncak kekeringan prioritas utama bukan mengejar produktivitas maksimal, melainkan mempertahankan kondisi tanaman dan lahan.

“Mulsa organik dari jerami, sekam, atau sisa panen dapat digunakan di sekitar pangkal tanaman untuk menekan penguapan dan mempertahankan kelembapan tanah,” jelasnya.

Menurutnya, jika tersedia sumber air terbatas, penyiraman perlu diprioritaskan pada bibit muda dan tanaman indukan untuk perbanyakan. Irigasi tetes atau penyiraman terbatas juga dapat diterapkan untuk menghemat penggunaan air. Pengendalian gulma tetap dilakukan secara selektif, sementara penggunaan pupuk anorganik sebaiknya dikurangi saat kekeringan puncak karena dapat memperbesar risiko stres tanaman.

Penggunaan kompos atau pupuk kandang matang menjadi alternatif yang lebih aman selama musim kering. Selain menyediakan hara secara perlahan, bahan organik membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Aplikasinya dapat dikombinasikan dengan mulsa untuk mempertahankan kelembapan di sekitar tanaman.

Selain pengelolaan air dan tanah, pola pemotongan atau penggembalaan juga perlu disesuaikan. Interval pemotongan sebaiknya diperpanjang dan tinggi sisa potong dinaikkan agar tanaman masih memiliki cukup daun untuk berfotosintesis serta mempertahankan cadangan energi di akar. Sistem rotasi dengan masa istirahat lebih panjang juga diperlukan selama musim kemarau.

Dr. Miftahush menambahkan, pemangkasan pada legum pohon seperti alfalfa tropik, Indigofera, lamtoro, dan gamal sebaiknya dilakukan secara ringan selama puncak kemarau. Ketika hujan mulai kembali, pemotongan dapat ditingkatkan secara bertahap untuk merangsang pertumbuhan tunas dan memulihkan produktivitas lahan hijauan.

 

Penulis: Satria

Foto: Magnific.com

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses