Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Skouw Wansa menggelar program edukasi bertajuk “Pemanfaatan Kotoran Ternak Menjadi Pupuk Kompos Berkualitas” di Kampung Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos sebagai upaya mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Kampung Skouw Mabo memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, termasuk limbah organik dari aktivitas peternakan dan pertanian. Namun, sebagian besar limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan masih banyak lahan yang belum dikelola secara maksimal untuk kegiatan budi daya tanaman. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN-PPM UGM Skouw Wansa untuk menghadirkan edukasi mengenai pembuatan pupuk kompos sebagai solusi yang mudah diterapkan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai manfaat pupuk kompos, bahan-bahan yang dapat digunakan, serta proses pembuatannya. Selanjutnya, masyarakat diajak mempraktikkan secara langsung tahapan pembuatan kompos mulai dari pencampuran bahan organik, penggunaan aktivator, hingga teknik penyimpanan agar proses dekomposisi berlangsung secara optimal. Tahapan terakhir juga dilakukan pengaplikasian pupuk ke lahan. Antusiasme masyarakat terlihat dari keaktifan peserta selama sesi diskusi maupun praktik lapangan.
Kepala Kampung Skouw Mabo, Bapak Ronaldo, menyampaikan apresiasinya terhadap program yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN-PPM UGM. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan solusi yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat yang memiliki potensi limbah organik cukup besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Potensi lahan di Kampung Skouw Mabo sebenarnya cukup besar, tetapi masih banyak yang belum produktif. Selain itu, limbah organik dari aktivitas peternakan dan pertanian juga belum dimanfaatkan secara optimal. Kami berharap melalui pelatihan ini masyarakat dapat mengolah limbah tersebut menjadi pupuk kompos sehingga mampu meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, dan mendukung hasil pertanian yang lebih baik,” ujar Ronaldo, Rabu (22/7).
Sementara itu, Bangkit Setiyoko, mahasiswa KKN-PPM UGM sekaligus penanggung jawab program asal Fakultas Peternakan UGM angkatan 2023, menjelaskan bahwa pemanfaatan pupuk kompos tidak hanya memberikan manfaat bagi lahan pertanian, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
“Kami melihat potensi besar dari sumber daya lokal yang tersedia di Kampung Skouw Mabo, khususnya limbah organik seperti kotoran ternak dan sisa tanaman. Disamping itu lahan pertanian di Skouw Mabo juga banyak yang belum produktif. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan inovasi sederhana yang dapat diterapkan oleh masyarakat untuk menghasilkan pupuk kompos berkualitas. Harapannya, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya yang ada secara mandiri sehingga lahan menjadi lebih produktif dan praktik pertanian berkelanjutan dapat terus diterapkan meskipun program KKN telah selesai,” jelas Bangkit.
Selain memberikan manfaat bagi sektor pertanian, penggunaan pupuk kompos juga diharapkan mampu memperbaiki kualitas tanah dalam jangka panjang, meningkatkan kandungan bahan organik, serta mendukung pelestarian lingkungan melalui pengurangan limbah organik. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal secara bijaksana.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola limbah organik sekaligus meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Kampung Skouw Mabo. Kegiatan ini juga merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN-PPM UGM dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan berkelanjutan.
Sumber: Bangkit S
Editor: Satria