Takmir Masjid Nurul Fikri Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menggelar pengajian rutin bulanan pada Kamis (9/4) dengan menghadirkan Ustaz Syatori Abdulrauf. Dalam kajian bertema “Menepi Sejenak dari Riuhnya Dunia”, jamaah diajak untuk merefleksikan kembali arah hidup yang selama ini sering larut dalam hiruk-pikuk duniawi.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Syatori menekankan pentingnya menghadirkan “rasa akhirat” dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan bahwa kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh rasa yang mendominasi dalam dirinya.
“Kalau hidup hanya dipenuhi rasa dunia, maka saat senang kita merasa senang dunia, tetapi saat susah pun yang terasa hanya kesusahan dunia. Berbeda jika kita hidup dengan rasa akhirat, maka dalam kondisi apa pun akan tetap menemukan makna dan kebahagiaan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahwa saat ini banyak manusia yang mulai kehilangan rasa akhirat dalam kehidupannya. Padahal, manusia sejatinya adalah makhluk akhirat yang sedang “merantau” di dunia. Dunia hanyalah tempat singgah sementara sebelum kembali ke kehidupan yang abadi.
“Sudah lama rasa akhirat itu menghilang dari hidup kita. Padahal, kita ini bukan makhluk dunia, kita adalah makhluk akhirat yang sedang merantau. Suatu saat kita pasti pulang,” tegasnya.
Dalam kehidupan modern, konflik batin kerap muncul karena adanya pertentangan antara “aku” dan “saya”. Ketika manusia terlalu mengikuti ego duniawi, maka ia akan semakin jauh dari ketenangan. Sebaliknya, ketika mampu menghadirkan rasa akhirat, hidup akan terasa lebih ringan dan penuh makna.
Ustaz Syatori juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan rasa selama menjalani kehidupan di dunia. Jangan sampai manusia terlalu mencintai kenikmatan dunia hingga melupakan tujuan utamanya.
“Hidup dengan rasa akhirat adalah sebuah keniscayaan. Kita harus menjaga rasa itu selama merantau di dunia, jangan sampai kita terlalu menikmati dunia hingga lupa arah pulang,” pesannya.
Di akhir tausiyah, ia menegaskan bahwa kunci ketenangan hidup terletak pada sikap syukur dan sabar. Dalam kondisi apa pun seorang hamba harus tetap bersyukur.
“Pilihan hidup kita hanya dua: bersyukur atau bersabar. Kalau kita mampu menjaga keduanya, insyaAllah hidup akan terasa lebih tenang dan bahagia,” pungkasnya.
Penulis: Satria