Fakultas Peternakan (Fapet) UGM bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo menggelar Kontes Ternak Kambing Peranakan Etawa (PE) pada Kamis (16/10) di Balai Desa Pagerharjo, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang didanai melalui APBD Kulon Progo ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kabupaten Kulon Progo serta Dies Natalis ke-56 Fapet UGM.
Perwakilan dari Fapet UGM, Prof. Ir. Panjono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., dalam sambutannya mewakili Dekan menyampaikan bahwa kegiatan kontes ini merupakan wujud kerja sama yang telah terjalin selama lebih dari 12 tahun antara Fapet UGM dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dalam pengembangan dan pelestarian kambing Peranakan Etawa.
Kegiatan ini menjadi ajang bergengsi bagi para peternak dan lembaga terkait untuk menampilkan hasil terbaik dari pembibitan kambing PE di Indonesia. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendapatkan bibit kambing PE jantan dan betina yang berkualitas sebagai upaya peremajaan populasi ternak unggul di masyarakat. Selain itu, kontes ini juga diharapkan mampu memotivasi dan merangsang peternak agar terus berinovasi dalam menghasilkan bibit berkualitas tinggi melalui penerapan manajemen pemeliharaan dan seleksi yang baik.
Tidak hanya sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi bentuk penghargaan kepada peternak berprestasi yang telah berkontribusi nyata dalam peningkatan mutu genetik kambing PE. Melalui penilaian yang objektif dan transparan, para juara kontes akan menjadi contoh dan inspirasi bagi peternak lainnya dalam upaya pengembangan ternak unggul nasional.
Dalam kegiatan ini setiap peserta kontes wajib memenuhi sejumlah persyaratan teknis dan administratif untuk menjamin kualitas serta keaslian ternak yang dikonteskan. Peserta merupakan peternak atau anggota kelompok tani ternak di Kabupaten Kulon Progo yang telah memelihara kambing PE minimal satu bulan, dibuktikan melalui surat keterangan kepemilikan dan hasil verifikasi oleh panitia. Kambing yang diikutkan harus dalam kondisi sehat, tidak cacat, serta memenuhi standar SNI Kambing PE (7352-1:2022) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Untuk kategori pejantan dan induk, kambing harus berumur poel dua hingga tiga pasang serta telah terbukti mengawini atau beranak. Sementara untuk calon pejantan dan calon induk, usia kambing berada pada poel 0,5 hingga 1,5 pasang.
Salah satu juri kontes, Ir. Akhmad Fathoni, S.Pt., M.Sc. Ph.D., IPP, menjelaskan bahwa penerapan standar dan verifikasi yang ketat sangat penting untuk menjaga mutu genetik kambing PE.
“Kontes ini bukan sekadar lomba penampilan, tetapi juga sarana edukasi bagi peternak agar memahami pentingnya seleksi dan pemeliharaan sesuai standar nasional. Dengan begitu, bibit unggul yang dihasilkan benar-benar bisa mendukung pengembangan kambing PE secara berkelanjutan,” tuturnya.
Metode penilaian dalam Kontes Ternak Kambing PE 2025 menggabungkan dua pendekatan, yaitu penilaian kuantitatif dan penilaian kualitatif. Penilaian kuantitatif dilakukan berdasarkan bobot badan dan ukuran tubuh yang mencerminkan performa pertumbuhan serta efisiensi produksi ternak. Sementara itu, penilaian kualitatif menitikberatkan pada penampilan dan karakteristik khas kambing PE, yang mencerminkan nilai seni serta keindahan bentuk tubuh sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 7352-1:2022).
Ketua pelaksana kegiatan, Mifta Pratiwi Rachman, S.Pt., M.Biotech., Ph.D., menambahkan pendekatan penilaian ini dirancang agar hasil kontes tidak hanya menonjolkan aspek fisik semata, tetapi juga memperhatikan kemurnian genetik dan keunggulan estetika.”Ini yang menjadi ciri khas kambing Peranakan Etawa sebagai plasma nutfah unggulan nasional,” ujarnya.
Total peserta yang mengikuti Kontes Ternak Kambing PE 2025 berjumlah 63 ekor kambing, terdiri atas 23 ekor kategori pejantan, 10 ekor induk, 17 ekor calon pejantan, dan 13 ekor calon induk. Antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan komitmen kuat para peternak Kulon Progo dalam menjaga kualitas genetik dan mengembangkan potensi kambing Peranakan Etawa sebagai aset unggulan daerah.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kemitraan antara pemerintah daerah, akademisi, dan peternak, sekaligus mempertegas peran Kulon Progo sebagai salah satu sentra pengembangan kambing PE di Indonesia. Dengan semangat kebersamaan dan inovasi, hasil kontes ini diharapkan mampu mendorong peningkatan mutu bibit serta kesejahteraan peternak di masa mendatang.

Sumber: Panitia Kontes Ternak
Editor: Satria