Fakultas Peternakan UGM Hadirkan Pakar Internasional Bahas Transformasi Sistem Peternakan Modern

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menggelar kuliah bertajuk pemanfaatan model dalam memahami, mengoptimalkan, dan merancang ulang sistem peternakan berkelanjutan, Kamis (16/4). Kegiatan menghadirkan pakar dari Wageningen University & Research, Dr Aart van der Linden.

Dalam paparannya, Aart menekankan pentingnya pendekatan sistem (systems approach) dalam ilmu peternakan. Sistem dipahami sebagai bagian dari realitas yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berinteraksi, seperti ternak, pakan, tanah, hingga lingkungan. Untuk memahami kompleksitas tersebut, dibutuhkan model sebagai representasi sederhana dari sistem nyata.

Menurutnya, penggunaan model, terutama model matematis, memiliki berbagai manfaat strategis. Model dapat membantu peneliti dan praktisi dalam memahami hubungan antar komponen secara kuantitatif, mengidentifikasi celah pengetahuan, menguji hipotesis, serta mengevaluasi dampak kebijakan dan manajemen peternakan. Bahkan, model mampu digunakan untuk melakukan simulasi masa depan dan optimalisasi sistem produksi secara lebih efisien dibandingkan eksperimen lapangan.

Namun demikian, Aart juga mengingatkan bahwa model memiliki keterbatasan, seperti proses pengembangan yang memerlukan waktu dan biaya, serta sifatnya yang menyederhanakan realitas. Oleh karena itu, model harus digunakan secara bijak dan sesuai konteks.

Ia juga menyoroti tantangan global seperti perubahan iklim yang berdampak pada produktivitas ternak. Melalui simulasi model, peneliti dapat memprediksi penurunan performa ternak di berbagai wilayah serta merancang strategi adaptasi, seperti pemilihan breed yang lebih tahan panas atau perubahan sistem produksi.

Dalam konteks kebijakan, model optimasi mampu membantu pengambilan keputusan berbasis data, seperti menentukan kombinasi usaha ternak yang paling menguntungkan dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya, regulasi, hingga dampak lingkungan.

Menutup kuliahnya, Aart menegaskan bahwa model merupakan alat yang sangat kuat dalam mendukung transformasi menuju sistem peternakan berkelanjutan. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya sinergi antara model dan eksperimen lapangan.

“Tidak ada simulasi tanpa eksperimen,” tegasnya.

Prof. Dr. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., IPM., ASEAN Eng.,selaku pengundang berharap melalui kegiatan ini sivitas akademika diharapkan semakin memahami peran penting teknologi pemodelan dalam menjawab tantangan sektor peternakan modern, sekaligus mendorong inovasi menuju sistem pangan yang berkelanjutan.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses