Fapet UGM Gelar Summer Course Teknologi Kulit Ramah Lingkungan, Dorong Inovasi Berbasis Hayati

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menggelar kegiatan Summer Course bertajuk “Sustainable and Green Leather Technology: From Conventional Processing to Bio-based Innovation” sebagai upaya mendorong pengembangan teknologi pengolahan kulit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kegiatan ini terselenggara melalui dukungan program Erasmus dan kolaborasi industri.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan summer course ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran global mengenai pentingnya praktik industri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Atas nama Fapet UGM, kami menyambut hangat seluruh peserta dan narasumber yang hadir dari berbagai institusi dan latar belakang. Kami merasa terhormat dapat menjadi tuan rumah dalam forum akademik internasional ini,” ujar Prof. Budi Guntoro.

Menurutnya, industri kulit sebagai salah satu sektor yang berkaitan erat dengan produksi ternak menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari dampak lingkungan, pengelolaan limbah, hingga efisiensi sumber daya. Oleh sebab itu, transformasi dari proses pengolahan kulit konvensional menuju pendekatan yang lebih hijau, berbasis hayati, dan berkelanjutan menjadi sebuah kebutuhan mendesak.

Prof. Budi menegaskan bahwa Fapet UGM terus berkomitmen mendorong kolaborasi lintas disiplin serta penelitian yang mendukung prinsip keberlanjutan. Integrasi antara kemajuan ilmu pengetahuan dan tanggung jawab lingkungan diyakini mampu menciptakan praktik industri yang lebih baik sekaligus memberikan kontribusi bagi masa depan bumi yang lebih sehat.

Salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut membahas Best Available Techniques (BAT) dalam pengolahan kulit oleh Dr. Al Mizan dari Khulna University of Engineering & Technology, Bangladesh. Materi tersebut menyoroti pentingnya teknologi bersih dalam industri penyamakan kulit untuk mengurangi dampak lingkungan tanpa mengurangi kualitas produk kulit.

BAT mencakup pengelolaan limbah, efisiensi air dan energi, substitusi bahan kimia berbahaya, hingga penerapan teknologi pengolahan rendah emisi. Beberapa inovasi yang diperkenalkan antara lain teknologi hair-save unhairing, penggunaan enzim dalam proses pengolahan, hingga pengurangan penggunaan pelarut organik pada tahap finishing kulit.

Selain itu, dosen Fapet UGM, Dr. Viagian Pastawan, turut memaparkan materi mengenai bio-based preservation of skin/hides for sustainable methods atau pengawetan kulit berbasis biologis sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti metode pengawetan menggunakan garam.

Ia menjelaskan bahwa metode pengawetan konvensional menggunakan garam memang murah dan populer, tetapi menimbulkan persoalan pencemaran lingkungan akibat tingginya kadar salinitas limbah. Karena itu, pendekatan bio-preservasi berbasis tanaman maupun mikroorganisme mulai dikembangkan sebagai solusi berkelanjutan.

Penulis: Satria

Foto: Tim Media Center

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses