Mahasiswa KKN-PPM UGM Dampingi Peternak Babi Bangkit Pasca Wabah Kematian Ternak di Kampung Skouw

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Skouw Wansa 2026 melaksanakan program pendampingan bagi peternak babi di Kampung Skouw, Jayapura, Papua, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak wabah penyakit babi pada tahun 2025. Wabah tersebut mengakibatkan tingginya angka kematian babi peliharaan milik masyarakat, bahkan babi hutan di sekitar kawasan juga dilaporkan banyak ditemukan mati. Kondisi ini berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat mengingat peternakan babi merupakan salah satu sumber penghasilan sekaligus memiliki nilai sosial dan budaya yang penting.

Sebelum ternak mati, masyarakat mengamati sejumlah gejala klinis pada babi, seperti mata berair, keluarnya cairan dari mulut, kaki membengkak, kesulitan berjalan hingga lumpuh. Dalam waktu singkat, kondisi ternak terus memburuk hingga akhirnya mati. Gejala tersebut menunjukkan adanya penyakit serius pada babi sehingga diperlukan kewaspadaan dan penanganan yang tepat oleh peternak bersama instansi terkait. Penyakit seperti African Swine Fever (ASF) memang dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi pada babi dan hanya menyerang babi domestik maupun babi liar, tidak menyerang manusia maupun ternak lain.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM menginisiasi kegiatan penyuluhan dan pendampingan mengenai biosekuriti sebagai langkah pencegahan penyebaran penyakit. Materi yang diberikan meliputi pentingnya menjaga kebersihan kandang, membatasi lalu lintas orang maupun hewan ke area peternakan, serta mengenali gejala awal penyakit agar peternak dapat segera melapor kepada petugas kesehatan hewan apabila ditemukan ternak yang sakit.

Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan penggunaan larutan disinfektan sederhana berbahan natrium hipoklorit yang mudah diperoleh di pasaran, seperti Bayclin, sebagai alternatif desinfeksi kandang dan peralatan peternakan. Penggunaan desinfektan ini diharapkan dapat membantu peternak menjaga kebersihan lingkungan kandang dengan biaya yang terjangkau. Pada kegiatan praktik, mahasiswa mendemonstrasikan cara pengenceran dan penyemprotan desinfektan secara tepat agar dapat digunakan secara aman dan efektif pada area kandang.

Bangkit Setiyoko, mahasiswa KKN-PPM UGM asal Fakultas Peternakan (Fapet) selaku penanggung jawab program, menjelaskan pemulihan peternakan harus dimulai dari peningkatan pemahaman peternak mengenai pencegahan penyakit.

Kami ingin memperkenalkan langkah-langkah biosekuriti yang sederhana tetapi efektif dan mudah diterapkan peternak sekitar. Salah satunya adalah menjaga kebersihan kandang secara rutin dan memanfaatkan desinfektan yang mudah diperoleh, seperti larutan natrium hipoklorit, untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. Harapannya, peternak dapat membangun kembali usaha peternakan dengan sistem pemeliharaan yang lebih sehat dan aman,” jelas Bangkit, Selasa (4/8).

Selain penyuluhan, kata Bangkit, mahasiswa bersama peternak juga melakukan aksi bersih-bersih kandang dan penyemprotan desinfektan sebagai bentuk penerapan langsung materi yang telah diberikan. Antusiasme kelompok ternak terlihat dari keaktifan peserta selama sesi diskusi dan praktik, terutama mengenai cara menjaga kesehatan ternak dan mencegah masuknya penyakit ke dalam kandang.

Perwakilan kelompok ternak, Hendro, menyampaikan bahwa wabah yang terjadi memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan peternak sekitar.

Wabah ini menyebabkan hampir seluruh ternak babi milik peternak mati. Bahkan, babi hutan yang biasanya masih banyak dijumpai di sekitar kampung juga ikut mati. Akibatnya, banyak keluarga kehilangan sumber penghasilan. Kami berharap melalui pendampingan dari mahasiswa KKN-PPM UGM, peternak semakin memahami cara mencegah penyakit sehingga ketika mulai beternak kembali, kejadian serupa tidak terulang,” ujar Hendro.

Selain penyuluhan, mahasiswa bersama peternak juga melakukan aksi bersih-bersih kandang dan penyemprotan desinfektan sebagai bentuk penerapan langsung materi yang telah diberikan. Antusiasme kelompok ternak terlihat dari keaktifan peserta selama sesi diskusi dan praktik, terutama mengenai cara menjaga kesehatan ternak dan mencegah masuknya penyakit ke dalam kandang.

Sumber: Bangkit

Editor: Satria

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses