Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menggelar pembukaan onsite 10th International Summer Course bertema “The Intersection of Biotechnology and Agriculture: Gene Editing for a Healthier Future” pada Senin (11/5) di Gedung ASLC Fapet UGM. Kegiatan internasional ini diikuti 112 peserta dari 19 negara dan dilaksanakan secara hybrid sebagai wadah kolaborasi akademik lintas negara dalam pengembangan bioteknologi dan pertanian berkelanjutan.
Dekan Fapet, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perkembangan pesat bioteknologi, khususnya teknologi gene editing, telah membuka peluang besar dalam menjawab tantangan global seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, kesehatan dan kesejahteraan ternak, hingga sistem produksi berkelanjutan.
“Summer course ini menjadi bagian dari komitmen UGM dalam mendorong riset unggul yang berdampak secara global sekaligus membangun kapasitas ilmuwan muda melalui perspektif ilmiah dan etika terhadap teknologi masa depan,”papar Budi.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Program ini terselenggara melalui kerja sama dengan Centre for Tropical Livestock Genetics and Health dan The University of Edinburgh, yang dinilai menjadi contoh kuat sinergi global dalam pengembangan riset dan pendidikan di bidang peternakan tropis.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Harmoko, menyampaikan apresiasi kepada Fapet UGM yang konsisten menyelenggarakan program ini selama satu dekade terakhir. Menurutnya, pencapaian penyelenggaraan ke-10 menjadi tonggak penting yang menunjukkan komitmen UGM terhadap keunggulan akademik dan penguatan jejaring internasional.
“UGM terus berkomitmen memperkuat riset, inovasi, keberlanjutan, serta kolaborasi global yang berdampak nyata bagi masyarakat. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan dunia seperti ketahanan pangan global, pertanian berkelanjutan, perubahan iklim, hingga penguatan ketahanan masyarakat. Maka endekatan multidisiplin antara ilmu peternakan, pertanian, dan bioteknologi menjadi sangat penting untuk menghasilkan solusi atas persoalan global yang semakin kompleks,”kata Danang.
Hadirkan 2 Pakar Dunia
Prof. Olivier Hanotte dari The University of Nottingham pada sesi kuliah umum menjelaskan tentang genetika evolusioner ternak dan pemanfaatannya untuk konservasi serta pengembangan ternak secara optimal. Olivier menekankan bahwa pemahaman terhadap keragaman genetik ternak lokal menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan peningkatan produktivitas peternakan dunia. “Keragaman genetik ternak lokal merupakan fondasi penting untuk menciptakan sistem peternakan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di masa depan,” ungkapnya.

Dr. Nigatu Ayele Adossa, peneliti The International Livestock Research Institute (ILRI) asal Addis Ababa, Ethiopia, membahas genomika sistem peternakan Afrika dan pemanfaatan teknologi long-read sequencing serta pan-genome dalam memahami keragaman genetik sapi Afrika. Nigatu menyampaikan bahwa sapi-sapi lokal Afrika memiliki kemampuan adaptasi luar biasa terhadap lingkungan tropis, penyakit, hingga tekanan iklim yang dapat menjadi sumber pembelajaran penting bagi pengembangan peternakan global.
“Pemanfaatan teknologi genomik modern akan membantu menemukan gen-gen penting yang berperan dalam ketahanan ternak, produktivitas, hingga efisiensi reproduksi sehingga dapat mendukung sistem peternakan yang lebih berkelanjutan di masa depan,”kata Nigatu.

Penulis: Satria
Foto: Margiyono