Perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri merupakan fenomena yang sering terjadi di berbagai negara, bahkan dalam satu wilayah yang sama. Hal tersebut dibahas dalam Pengajian Bulanan yang digelar oleh Fakultas Peternakan (Fapet) UGM pada Kamis (5/3) di Auditorium Fapet.
Dalam kegiatan tersebut, dosen Fisika FMIPA UGM sekaligus pakar astronomi, Prof. Dr.Eng. Rinto Anugraha NQZ, S.Si., M.Si menyampaikan materi bertajuk “Mengapa Puasa dan Lebaran Bisa Berbeda? Tinjauan Sains dan Islam.”
Rinto menjelaskan bahwa perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri bukanlah hal baru. Sejak masa awal Islam, perbedaan sudah terjadi karena faktor wilayah pengamatan hilal dan metode penentuan awal bulan Hijriah.
“Perbedaan ini bukan karena sains dan agama bertentangan, melainkan karena adanya perbedaan metode, kriteria, serta wilayah pengamatan dalam menentukan awal bulan Hijriah,” jelasnya.
Menurutnya, penentuan awal bulan dalam kalender Islam umumnya menggunakan beberapa pendekatan, yaitu rukyatul hilal (pengamatan langsung terhadap hilal), hisab (perhitungan astronomi), dan istikmal atau penyempurnaan jumlah hari menjadi 30 jika hilal tidak terlihat.
Selain metode, faktor geografis juga memengaruhi kemungkinan terlihatnya hilal. Wilayah yang berada lebih ke barat memiliki peluang lebih besar melihat hilal karena usia bulan lebih tua saat matahari terbenam.
Ia menambahkan bahwa kondisi atmosfer, polusi cahaya, hingga kebijakan otoritas keagamaan juga dapat memengaruhi keputusan penetapan awal bulan Hijriah.
“Karena itu, perbedaan dalam penentuan awal puasa maupun Idul Fitri perlu disikapi dengan sikap saling menghormati dan memahami perbedaan metode yang digunakan,” pungkasnya.
Pengajian bulanan ini diikuti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan literasi keilmuan sekaligus pembinaan spiritual di lingkungan Fapet UGM.
Penulis: Satria
Foto: Miftahush S.H