Menyulap Naungan Jati Wanagama Jadi Lumbung Hijauan: Tim Pengabdian UGM Inisiasi Pengembangan Silvopastura untuk Peternak Gunungkidul  

Tim pengabdian masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Model Silvopastura Terintegrasi untuk Meningkatkan Kapasitas Masyarakat dan Ketahanan Pakan Ternak di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanagama. Kegiatan berlangsung pada Selasa (1/9) malam dan dihadiri oleh 14 anggota Kelompok Ternak Bina Gama dari Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Dasar 2026 yang didanai oleh Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPkM) UGM. Kelompok Ternak Bina Gama dipilih sebagai mitra program karena selama ini menghadapi tantangan dalam menyediakan pakan ternak yang cukup dan berkualitas di tengah kondisi lahan karst yang minim curah hujan.

Kegiatan diawali dengan pemaparan konsep silvopastura oleh Ir. Aqmal Nur Jihad, M.Sc., dari Fakultas Kehutanan UGM. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa silvopastura merupakan sistem agroforestri yang memadukan fungsi produksi kayu dengan pengembangan hijauan pakan ternak dalam satu kawasan yang sama. Ruang di sela-sela tegakan jati yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, menurutnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai lahan hijauan pakan apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat. Prinsip keselarasan ini memungkinkan kawasan hutan tetap menjalankan fungsi konservasi dan produksi kayu, sekaligus membuka peluang penghidupan baru bagi masyarakat sekitar melalui sektor peternakan.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Miftahush Shirothul Haq dari Fakultas Peternakan UGM mengenai budi daya hijauan pakan unggul, dengan fokus pada Rumput Gama Umami. Rumput hasil pengembangan UGM ini memiliki ketahanan terhadap naungan dan kekeringan, serta produktivitas biomassa yang tinggi, sehingga sesuai dikembangkan di bawah tegakan hutan seperti di kawasan Wanagama.

Kegiatan berlangsung interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan dari peserta seputar teknik penanaman, pemeliharaan rumput di bawah naungan, hingga strategi pemanfaatan lahan hutan untuk produksi hijauan pakan secara berkelanjutan. Antusiasme ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan solusi pakan ternak merupakan persoalan yang dirasakan langsung oleh peternak di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Satria Aji, S.T., pengelola Bumi Kayangan Farm yang telah menjadi mitra program pengabdian ini selama tiga tahun terakhir. Bumi Kayangan Farm dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan budi daya rumput unggul di wilayah Gunungkidul. Pada kesempatan ini, Satria Aji berbagi pengalaman praktis mengenai manajemen pengelolaan rumput di lahan kering kepada anggota Kelompok Ternak Bina Gama.

Melalui kegiatan ini, tim pengabdian UGM berharap Kelompok Ternak Bina Gama dapat mengadopsi model silvopastura terintegrasi sebagai strategi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan pakan ternak, sekaligus mendukung pengelolaan KHDTK Wanagama yang lebih produktif dan berkelanjutan. Sinergi antara keilmuan kehutanan, peternakan, dan pengalaman lapangan peternak lokal ini diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi pada kawasan hutan produksi lain dengan karakteristik serupa.

 

Sumber: Tim Pengabdian Masyarakat-Miftahush S Haq

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses