Industri peternakan ruminansia memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan penguatan ekosistem protein nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Yudi Guntara Noor dalam kuliah umum bertajuk “Penguatan Ekosistem Protein Nasional melalui Industri Ruminansia Potong” yang digelar di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM pada Rabu (3/6).
Dalam paparannya, Direktur Utama PT Citra Agro Buana Semesta (CABS) tersebut menjelaskan bahwa paradigma pangan saat ini perlu diarahkan pada konsumsi real food dengan memperhatikan partisipasi konsumsi dan keragaman sumber protein. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan protein masyarakat tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi membutuhkan ekosistem pangan yang kuat dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi industri peternakan nasional, terutama terkait keterbatasan lahan produktif (arable land) dibandingkan dengan lahan nonproduktif. Kondisi tersebut menuntut inovasi dan efisiensi dalam sistem produksi peternakan agar mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat.
Meski demikian, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif dan komparatif yang dapat menjadi modal pengembangan industri peternakan. Keunggulan tersebut antara lain ketersediaan pakan berbasis limbah pertanian dan perkebunan, jumlah penduduk yang besar sebagai pasar potensial, serta jaminan produk halal dan segar yang menjadi nilai tambah bagi produk peternakan nasional.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Indonesia memiliki sekitar 10,8 juta ekor sapi dan 12,6 juta peternak sapi. Angka ini menunjukkan bahwa sektor peternakan tidak hanya berperan sebagai penyedia pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat.
Yudi juga mengulas kondisi pasokan dan kebutuhan daging sapi nasional. Kebutuhan atau konsumsi daging sapi Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 794 ribu ton dengan tingkat konsumsi 2,77 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, pasokan berasal dari sapi lokal, penggemukan sapi impor, serta impor daging sapi dan kerbau. Data tersebut menunjukkan masih adanya ruang besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor.

Selain sapi potong, komoditas kambing dan domba juga memiliki prospek yang menjanjikan. Salah satu pasar potensial berasal dari kebutuhan ibadah, seperti dam jamaah haji yang diperkirakan mencapai 221 ribu ekor dan kebutuhan kurban sekitar 1,2 juta ekor per tahun. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
Untuk mendorong pertumbuhan industri peternakan yang berkelanjutan, Yudi menawarkan beberapa tahapan pembangunan, mulai dari membuka akses pasar alternatif seperti pasar dam dan ekspor, memperkenalkan teknologi dan bibit unggul, membangun sistem rantai pasok dan produksi berbasis klaster tertutup (closed loop), hingga memperkuat rekayasa keuangan dan inklusi keuangan bagi peternak. Strategi tersebut diharapkan dapat menciptakan efek duplikasi dan multiplikasi yang mempercepat perkembangan sektor peternakan nasional.
Dalam sesi penutup, Yudi menekankan pentingnya jiwa kewirausahaan bagi generasi muda yang ingin terjun ke sektor peternakan. Ia menyebut bahwa seorang young entrepreneur harus memiliki growth mindset, ketangguhan (resilience), dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
“Beternak mulai dari yang kecil, lalu tumbuh berkembang menjadi lebih besar dan berkelanjutan. Beternak selain merupakan sebuah komitmen, juga harus adaptif dengan perubahan,” pesannya kepada para peserta kuliah umum.
Selain kuliah umum, pada acara itu juga dilakukan serah terima hibah domba persilangan Dorper x Garut CSR dari PT CABS kepada Fapet UGM. Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., berterima kasih atas hibah dari PT CABS. Keberadaan domba dorper ini bisa menjadi sarana praktikum dan penelitian bagi dosen dan mahasiswa Fapet.
“Ada 16 ekor, yaitu 1 jantan dan 15 betina yang nanti akan dikelola oleh Pusat Pengembangan Ternak (PPT) Fapet UGM,”kata Budi.

Penulis: Satria
Foto: Margiyono