Ayam kampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas peternakan bernilai ekonomi. Namun, pengembangan usaha ini membutuhkan pengelolaan produksi yang efisien serta strategi pemasaran yang tepat agar mampu bersaing dan berkelanjutan.
Tiga aspek tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Kuliah Gratis, Bagimu Petani, Jumat (30/10) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) yang menghadirkan pakar manajemen pakan dan nutrisi ternak UGM, Dr. Ir. Aji Praba Baskara, S.Pt., IPM., pakar manajemen pemeliharaan ternak UGM, Dr. Ir. Heru Sasongko, MP., serta pakar komunikasi pemasaran peternakan UGM, Tian Jihadhan Wankar, Ph.D.
Aji Praba Baskara menjelaskan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas, yakni mencapai 57,87 persen dari total biaya produksi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Oleh karena itu, ketepatan manajemen pakan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi dan keuntungan usaha.
“Biaya pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam industri peternakan. Kesalahan dalam manajemen pakan dapat menimbulkan kerugian yang besar. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang baik guna menghindari kerugian tersebut,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya penyusunan ransum sesuai kebutuhan nutrisi dan fase pertumbuhan ayam. Selain memperhatikan kandungan protein dan energi, peternak juga perlu memastikan kecukupan mineral serta asam amino. Kualitas pakan tersebut perlu didukung manajemen kandang yang baik, mulai dari pengaturan kepadatan, suhu, sirkulasi udara, hingga interaksi positif antara peternak dan ternak.
Sementara itu, Heru Sasongko menyoroti pentingnya manajemen pemeliharaan yang tepat sejak pemilihan bibit hingga ayam siap dipasarkan. Menurutnya, peternak perlu menentukan tujuan usaha sejak awal, apakah berfokus pada pembibitan, produksi daging, atau produksi telur. Penentuan tujuan tersebut akan memengaruhi pemilihan bibit, sistem kandang, kebutuhan pakan, serta pengelolaan usaha secara keseluruhan.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan DOC (Day Old Chick) yang sehat, seragam, aktif, dan berasal dari induk produktif merupakan salah satu fondasi keberhasilan usaha. Selain itu, peternak perlu menyesuaikan sistem pemeliharaan, baik ekstensif, semi-intensif, maupun intensif, dengan kapasitas usaha dan kondisi lingkungan.
Sementara itu, Tian Jihadhan Wankar menyoroti pentingnya memahami perilaku dan kebutuhan konsumen dalam memasarkan produk ayam kampung. Menurutnya, persepsi mengenai kandungan nutrisi, cita rasa, tekstur daging, serta dorongan menjalankan gaya hidup sehat menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Ia menambahkan, komunikasi pemasaran digital tidak cukup hanya berisi promosi, tetapi juga perlu memberikan edukasi mengenai asal produk, proses pemeliharaan, kualitas, keamanan pangan, dan keunggulan ayam kampung.

Penulis: Satria
Foto: Margiyono