Melimpahnya hasil samping industri pangan membuka peluang pengembangan bahan pakan alternatif, salah satunya ampas kacang hijau. Pemanfaatannya di tingkat peternak memerlukan proses pengolahan yang tepat, terutama dalam penanganan bahan, pencampuran, dan ketersediaan sarana pengolahan.
Kondisi tersebut ditemui di Peternakan Way Farm, Yogyakarta. Menurut informasi dari salah satu peternak setempat, Laut, pasokan ampas kacang hijau yang diterima mencapai sekitar 400 kg per hari, sementara yang termanfaatkan sebagai pakan baru sekitar 240 kg. Kadar airnya yang tinggi membuat bahan ini cepat rusak apabila tidak segera diolah.
Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada menghadirkan FEMIXA, inovasi mekanisasi untuk mengolah dan mencampur ampas kacang hijau dengan bahan pakan lain. FEMIXA dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI).
Salah satu anggota tim, Muhammad Haidillah Farhan (Fakultas Peternakan UGM angkatan 2024), menjelaskan bahwa pencampuran manual dalam volume ratusan kilogram menyita waktu dan tenaga, serta sulit menghasilkan adonan pakan yang homogen. “Dengan mekanisme pencampuran bertenaga motor pada FEMIXA, efisiensi kerja peternak meningkat signifikan dan kualitas pencampuran pakan menjadi lebih konsisten,” ujarnya, Jumat (4/9).
FEMIXA bekerja dengan memasukkan ampas kacang hijau bersama bahan pakan lain ke bagian pencampur, yang kemudian diaduk secara mekanis oleh motor penggerak. Mekanisme ini dirancang agar proses pengolahan lebih terstruktur dan mengurangi ketergantungan pada tenaga manual. Mempertimbangkan keterbatasan akses listrik di Way Farm, FEMIXA dilengkapi sistem energi surya sebagai sumber daya operasionalnya.
Melalui inovasi ini, tim mahasiswa UGM berharap dapat membantu peternak mengolah pakan secara lebih praktis sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping industri pangan di tingkat peternakan.

Sumber: Tim mahasiswa