Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa, Fapet UGM dan PT Medion Gelar Pelatihan Vaksinasi Ayam

Fakultas Peternakan (Fapet) melalui Career Development and Entrepreneur Center (CDEC) kembali menggandeng PT Medion dalam program Experiential Learning yang digelar pada Rabu (11/02). Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis serta pemahaman mengenai pentingnya vaksinasi dalam industri peternakan.

District Assistant Manager PT Medion area Jogja & Magelang, Sugiyantoro, S.Pt., menekankan bahwa vaksinasi bukan sekadar rutinitas, melainkan pilar utama dalam menjaga kesehatan populasi ayam.

“Vaksinasi berguna untuk merangsang sistem kekebalan tubuh atau antibodi agar ayam lebih kuat. Ini adalah langkah preventif untuk mencegah serangan penyakit berbahaya seperti ND (tetelo), Gumboro, IB, POX, dan AI, terutama di area peternakan yang padat,” ujar Sugiyantoro.

Ia menjelaskan bahwa penyakit pada ayam umumnya dipicu oleh infeksi virus, bakteri (seperti E. coli dan Salmonella), serta parasit. Kondisi ini sering kali diperparah oleh manajemen lingkungan yang buruk, seperti kandang yang kotor, lembap, dan sirkulasi udara yang tidak optimal.

Pada kesempatan itu, PT Medion juga memperkenalkan beberapa inovasi alat vaksinasi terbaru kepada para peserta, di antaranya Socorex dan Haesuto (alat suntik presisi), Serena khusus untuk metode tusuk sayap (Pox) dan Deihara atau DAV (Digital Automatic Vaccinator).

Ketua CDEC Fapet, Ir. Viagian Pastawan, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPP., menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti sekitar 100 mahasiswa semester 6 dan 8. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 mahasiswa semester 8 terpilih untuk mengikuti sesi praktik langsung vaksinasi pada ayam.

“Ini merupakan kegiatan rutin tahunan hasil kerja sama Fapet dengan PT Medion dalam tiga tahun terakhir. Kami ingin mahasiswa memiliki pengalaman praktis sebelum mereka benar-benar terjun ke dunia kerja,” ungkap Ir. Viagian.

Viagian berharap melalui pelatihan ini para calon sarjana peternakan tidak hanya memahami jenis-jenis vaksin seperti ND, AI, IB, dan POX, tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi terkini guna menekan angka kematian ternak dan meningkatkan produktivitas daging maupun telur di masa depan.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses