Kromium masih menjadi bahan penyamak utama yang paling banyak digunakan di industri penyamakan kulit dunia karena kemampuannya meningkatkan stabilitas kolagen melalui pembentukan ikatan silang. Namun demikian, tingkat penyerapan kromium pada kulit domba masih relatif rendah, sehingga berdampak pada kualitas kulit sekaligus meningkatkan risiko pencemaran lingkungan akibat limbah cair yang mengandung kromium.
Hal ini dikemukakan oleh Gresy Griyanitasari, S.Pt., M.Sc. saat melaksanakan ujian tertutup program doktor Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Senin (26/1). Gresy mempertahankan disertasinya berjudul “Studi Optimasi Proses Penyamakan Utama dan Implikasinya Terhadap Kualitas Kulit Domba Finish”.
“Disertasi ini menyoroti isu strategis dalam industri penyamakan kulit, khususnya efisiensi penggunaan kromium dan peningkatan mutu kulit domba hasil akhir (finish leather),”papar Gresy.
Ia menjelaskan penelitian ini dirancang dalam tiga tahap utama. Tahap pertama berfokus pada optimasi proses penyamakan utama dengan mempelajari pengaruh suhu, waktu, dan jumlah kromium terhadap suhu kerut kulit wet blue, kadar Cr₂O₃ yang terserap dalam kulit, serta kadar kromium total pada limbah cair. Optimasi dilakukan menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan desain Box-Behnken.
Tahap kedua bertujuan mengevaluasi morfologi kulit crust yang dihasilkan dari kulit wet blue hasil proses penyamakan utama yang optimal. Sementara itu, tahap ketiga diarahkan untuk meningkatkan sifat fisik, kerataan warna, dan morfologi permukaan kulit tersamak melalui penerapan empat tipe coating, yaitu anilin (AN), semi anilin (SAN), lightly covering (LC), dan opaque (O).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal proses penyamakan utama dicapai pada suhu 44,17 °C selama 240,12 menit dengan penggunaan kromium sebesar 7,00%. Kulit crust yang dihasilkan pada kondisi tersebut memiliki struktur yang kompak dan dinilai memiliki ketahanan yang baik untuk dilanjutkan ke tahap finishing.
“Secara morfologis, kulit dengan tipe coating lightly covering tampak lebih halus dengan pori-pori yang lebih tertutup, sehingga memberikan nilai estetika dan kualitas permukaan yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa optimasi proses penyamakan utama berperan penting dalam menentukan kualitas kulit pada tahap-tahap selanjutnya,”imbuh Gresy.
Ujian disertasi tersebut dilaksanakan di hadapan tim penguji yang terdiri dari Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.; Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM.; Prof. Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.; Prof. Ir. Nanung Agus Fitriyanto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM.; Dr. Ir. Mohammad Zainal Abidin, S.Pt., M.Biotech., IPM.; Dr. Wagiman, STP., M.Si.; Ir. Yuni Kusumastuti, S.T., M.Eng., D.Eng., IPM.; Ir. Viagian Pastawan, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPP.; serta Dr. Ir. R. Lukas Martindro Satrio Ari Wibowo, S.Pt., M.P., IPU., ASEAN Eng.
Penulis: Satria