Bimtek Fapet UGM Dorong Peternak Kambing dan Domba Naik Kelas

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) budi daya kambing dan domba pada Sabtu–Minggu (2–3 Mei). Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas peternak agar lebih produktif, efisien, dan mampu bersaing di pasar.

Bimtek menghadirkan pendekatan komprehensif yang tidak hanya membahas teknik beternak, tetapi juga mengintegrasikan aspek biologis dan ekonomi dalam satu kesatuan. Materi yang disampaikan antara lain meliputi manajemen reproduksi, recording ternak, seleksi bibit unggul, hingga analisis kelayakan usaha peternakan.

Dalam sesi reproduksi dan breeding, peserta dibekali pemahaman bahwa manajemen reproduksi menjadi faktor kunci keberhasilan usaha ternak. Pengelolaan siklus reproduksi mulai dari perkawinan, kebuntingan, hingga kelahiran dan pascakelahiran harus dilakukan secara tepat. Peternak diajak memahami pentingnya mengenali siklus birahi, menentukan waktu kawin ideal, memastikan kecukupan nutrisi terutama pada masa akhir kebuntingan, serta melakukan penanganan kelahiran dan perawatan cempe secara optimal.

Materi recording ternak juga menjadi perhatian utama. Pencatatan data ternak secara sistematis dinilai sebagai fondasi dalam perbaikan genetik dan manajemen usaha. Melalui recording, peternak dapat menentukan induk dan pejantan unggul, mencegah perkawinan sedarah, meningkatkan efisiensi pakan dan biaya, serta melakukan evaluasi performa ternak secara berkelanjutan. Selain itu, peserta dilatih melakukan seleksi ternak berdasarkan kesehatan, bobot badan, performa, dan kualitas genetik.

Tidak hanya aspek teknis, Bimtek ini juga membekali peserta dengan analisis usaha pembibitan kambing dan domba yang disampaikan oleh tim dosen Fapet UGM. Sumber pendapatan peternak tidak hanya berasal dari penjualan cempe, tetapi juga dari induk afkir, pejantan, serta limbah ternak seperti kotoran dan urin. Meski demikian, analisis menunjukkan bahwa keuntungan usaha masih relatif terbatas apabila tidak diimbangi dengan efisiensi biaya dan inovasi.

Melalui kegiatan ini, peternak didorong untuk “naik kelas” dengan menerapkan sejumlah strategi, seperti memperpanjang umur jual ternak agar nilai ekonominya meningkat, memproduksi pakan secara mandiri, mengolah limbah menjadi kompos bernilai jual, mengombinasikan sistem pembibitan dan penggemukan, serta meningkatkan skala usaha dengan menambah jumlah induk. Model usaha berbasis kelompok dengan sistem bagi hasil juga diperkenalkan sebagai upaya penguatan kelembagaan peternak.

Penulis: Satria

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses