Fakultas Peternakan (Fapet) UGM konsisten melakukan pendampingan sekaligus pembinaan peternak dalam budi daya ayam Jowo Super (Joper). Pendampingan yang dikemas dalam program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menciptakan inovasi bagi praktisi peternakan sehingga bisa menjadi solusi atas tingginya permintaan daging ayam kampung.
“Peran kami adalah menyebarluaskan teknologi dan praktik budi daya yang tepat guna kepada masyarakat. Ayam Joper memiliki potensi besar sebagai substitusi ayam kampung potong sehingga dapat membantu memenuhi permintaan pasar tanpa menguras populasi ayam kampung asli,” ujar Prof. Ir. Wihandoyo, MS., Ph.D., Guru Besar Fapet UGM, yang menjadi salah satu motor penggerak utama program ini, Selasa (26/8).
Menurut Wihandoyo, ayam Joper merupakan hasil persilangan ayam kampung jantan dan ayam petelur komersial yang memiliki keunggulan signifikan berupa masa panen yang jauh lebih singkat. Ayam ini dapat mencapai bobot potong ideal (0,8–1 kg) hanya dalam 60 hingga 70 hari sehingga dapat menjawab tantangan lambatnya pertumbuhan ayam kampung tradisional.
“Hasil persilangan ini paling optimal untuk menghasilkan ayam potong. Untuk pembibitan berkelanjutan, perlu penanganan genetik lebih lanjut. Fokus kami adalah memastikan peternak mendapatkan keuntungan maksimal dari siklus pembesaran untuk konsumsi,” jelasnya.
Peneliti lain dari Laboratorium Ilmu Ternak Unggas Fapet, Dr. Ir. Heru Sasongko, M.P., menambahkan program pengabdian masyarakat yang dilakukan telah menjangkau seluruh wilayah DIY, mulai dari Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Gunungkidul. Berbagai kegiatan yang selama ini telah dilakukan diantaranya pelatihan keterampilan, pelatihan peningkatan ekonomi, pelatihan kemandirian bibit, serta sinergi dengan DPRD Kabupaten Bantul melalui dana aspirasi.
Melalui berbagai pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen Fapet UGM sebagai jembatan antara inovasi peternakan dan kebutuhan masyarakat. Program ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan ekonomi peternak lokal tetapi juga secara aktif mendukung stabilitas pasokan pangan hewani di tingkat regional.

Sumber: Laboratorium Ilmu Ternak Unggas
Editor: Satria