Fapet UGM Lepas Insinyur Baru Program Profesi Insinyur Peternakan

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menyelenggarakan kegiatan Pelepasan Insinyur Baru Program Studi Program Profesi Insinyur (PPI) Peternakan Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 pada Selasa (13/1). Kegiatan ini menjadi penanda bertambahnya lulusan insinyur peternakan yang siap berkontribusi dalam pembangunan sektor peternakan nasional.

Ketua Program Studi Program Profesi Insinyur Peternakan Fapet UGM, Dr. Ir. Muhsin Al Anas, S.Pt., IPP, menyampaikan statistik peserta PPI Semester Gasal 2025/2026. Ia menjelaskan bahwa program ini masih mendapatkan animo tinggi dari masyarakat.

“Pada Semester Gasal 2025/2026 terdapat sebanyak 95 peserta terdiri atas 75 orang jalur RPL dan 20 orang reguler. Dengan pelepasan kali ini, total alumni Program Profesi Insinyur Peternakan Fapet UGM telah mencapai 940 insinyur,” ujar Muhsin.

Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyatakan dukungan terhadap perguruan tinggi lain yang turut mengembangkan Program Profesi Insinyur. Menurutnya, keberadaan PPI memiliki peran strategis dalam penguatan tata kelola profesi keinsinyuran.

“Kami sangat mendukung jika ada perguruan tinggi lain yang juga menyelenggarakan Program Profesi Insinyur. Program ini penting untuk mengatur kewenangan keinsinyuran agar tidak bertabrakan dengan profesi lain, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang telah diatur dalam undang-undang,” tegas Prof. Budi.

Prof. Budi Guntoro juga menambahkan lulusan PPI Fapet UGM tidak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga internasional, khususnya ASEAN dan Asia Pasifik.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang juga turut dilepas, Dr. Harry Suhada, S.Pt., M.Sc., menilai Program Profesi Insinyur Peternakan Fapet UGM memiliki keunggulan dari sisi akademik maupun sistem pembelajaran.

“Program Profesi Insinyur Peternakan Fapet UGM bukan hanya bagus secara akademis, tetapi juga disusun secara sistematis dan telah menjawab kebutuhan nyata masyarakat,” ungkap Dr. Harry.

Ia juga menyoroti masih adanya berbagai tantangan di sektor peternakan nasional yang memerlukan peran aktif para insinyur peternakan.

“Persoalan seperti kemandirian pangan dan kesejahteraan hewan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Tantangan-tantangan ini harus dijawab oleh para insinyur peternakan yang profesional dan berintegritas,” lanjutnya.

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses