Guru Besar Fapet UGM Soroti Klaim 19 Ribu Ekor Sapi per Hari untuk MBG

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sempat menyatakan sekitar 19 ribu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi titik pelaksanaan program MBG membutuhkan satu ekor sapi setiap hari. Dengan demikian, jika pada akhir tahun ada 19 ribu SPPG, maka ada 19 ribu ekor sapi harus dipotong dalam sehari. Sementara jika dilakukan 4 kali sebulan, maka tinggal dikalikan.

Pernyataan mengenai ini memunculkan pertanyaan di berbagai kalangan. Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof Panjono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menilai angka tersebut perlu dikaji secara rasional dan dijelaskan secara transparan kepada publik.

Menurut Panjono, klaim tersebut tidak sepenuhnya selaras dengan fakta di lapangan, khususnya terkait menu MBG yang beredar saat ini. “Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya,” ujarnya, Rabu (11/3).

Program MBG merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi. Selain berdampak pada penurunan stunting, wasting, dan anemia, program ini juga dirancang untuk menciptakan permintaan pangan yang besar, rutin, dan berkelanjutan bagi sektor pertanian dan peternakan.

Pada 2026, MBG ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat. Hingga awal Januari 2026, realisasinya telah mencapai sekitar 55,1 juta orang atau 66,5 persen dari target nasional.

Program MBG Tetap Perlu Berbasis Data

Panjono menambahkan jika 19 ribu sehari, dan 4 kali sebulan, berarti 912 ribu ekor sapi dipotong selama setahun. Ia menyatakan program sebesar MBG tetap membutuhkan kebijakan berbasis data, baik dalam perencanaan produksi, penguatan populasi sapi dalam negeri, maupun impor sapi bakalan, agar keberlanjutannya tetap terjaga.

Menurut BPS, total populasi sapi 2025 di Indonesia sekitar 13,5 juta ekor. Sementara Kementerian Pertanian menargetkan swasembada daging sapi pada tahun 2026 dengan proyeksi populasi sapi sebesar 19,96 juta ekor. Terdapat kekurangan 6,46 juta ekor.

Sementara itu, data realisasi impor sapi bakalan anggota GAPUSPINDO menunjukkan pada 2024 terealisasi 475.032 ekor (72,7 persen dari izin impor), dan pada 2025 mencapai 494.995 ekor (83,6 persen dari izin impor). Angka ini menunjukkan pasokan sapi bakalan berada pada kisaran ratusan ribu ekor per tahun, bukan jutaan ekor dalam waktu singkat.

“Sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan MBG dan swasembada daging di tahun 2026. Tetapi kita harus tetap optimis untuk menuju ke sana. Tentu saja diperlukan upaya yang sangat luar biasa untuk mewujudkannya,”tegas Panjono.

Peningkatan populasi sapi dalam negeri harus dilakukan dengan cepat dan tepat, imbuh Panjono,  misalnya melalui pembiakan dengan metode koloni terintegrasi dengan kebun sawit, kebun kelapa, ataupun hutan tanaman industri yang banyak terdapat di Indonesia. Harapannya jika tidak bisa terwujud tahun ini bisa dilakukan untuk tahun-tahun selanjutnya.

 

Penulis: Satria

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses