Menjelang Iduladha, kebutuhan akan pelaksanaan kurban yang tidak hanya sah secara agama, tetapi juga aman dan higienis, menjadi semakin penting. Menjawab hal tersebut, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menggelar pelatihan kurban pada Selasa (5/5), yang diikuti panitia kurban, jagal, hingga masyarakat umum.
Tak sekadar teori, pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan lengkap mulai dari fikih kurban hingga praktik penanganan hewan dan pengelolaan daging yang sesuai standar kesehatan.
Salah satu pemateri, Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D., IPM., menegaskan bahwa pelaksanaan kurban harus mengedepankan prinsip halal, aman, dan ihsan.
“Kurban itu bukan sekadar menyembelih, tetapi bagaimana kita memastikan hewan diperlakukan dengan baik, prosesnya aman bagi manusia, dan hasilnya layak dikonsumsi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kesalahan dalam penanganan hewan kerap terjadi di lapangan, mulai dari hewan yang stres hingga proses penyembelihan yang tidak sesuai standar. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas daging sekaligus berisiko bagi panitia.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya manajemen kurban, termasuk pengendalian massa, pembagian peran tim, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD). Dalam praktiknya, hanya tim terbatas yang diperbolehkan berada di area penyembelihan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Ir. H. Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., Asean Eng, Wakil Ketua Halal Center UGM, memberikan pandangan dari sisi fikih. Ia mengingatkan bahwa kurban merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang harus dilandasi niat ikhlas dan memenuhi syarat sah, mulai dari jenis hewan, umur, hingga kondisi kesehatan hewan.
Sementara itu, aspek kesehatan menjadi perhatian dalam pelatihan ini. Dr. Ir. Rio Olympias Sujarwanto, S.Pt., M.Sc., IPM., Asean Eng., mengatakan bahwa pengelolaan daging kurban yang tidak higienis dapat memicu risiko penularan penyakit.
“Daging itu sangat mudah terkontaminasi. Penanganan yang salah, seperti meletakkan di tanah atau menggunakan wadah tidak aman, bisa meningkatkan jumlah kuman secara drastis,” ungkap Rio.
Pada pelatihan tersebut peserta juga dibekali praktik pemotongan dan distribusi daging yang benar, termasuk pemisahan daging dan jeroan, penggunaan sarung tangan, hingga anjuran menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti besek bambu.
Melalui kegiatan ini, Fapet UGM berharap para peserta nantinya bisa melanjutkan pada proses sertifikasi kompetensi yang selama ini juga telah dilakukan oleh Fapet. Dekan Fapet, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan sertifikasi akan diperlukan jika nantinya makanan masuk pada ranah diperjualbelikan kepada khalayak.

Penulis: Satria
Foto: Margiyono