Mahasiswa Fapet UGM Ikuti Program SUIJI di Jepang dan Bantul

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas pengalaman internasional mahasiswa melalui partisipasi dalam program SUIJI-SLP (Six-University Initiative Japan Indonesia Service Learning Program). Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran lintas budaya sekaligus pengabdian masyarakat di Indonesia maupun Jepang.

Program SUIJI merupakan kerja sama antara enam universitas di Indonesia dan Jepang yang bertujuan memperkuat kolaborasi pendidikan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik internasional, tetapi juga belajar langsung mengenai dinamika sosial, budaya, dan pembangunan masyarakat di tingkat lokal.

Dua orang mahasiswa Fapet UGM, Nuraini Islami Kamiliya dan Wanodya Kusumaning Pertiwi, mengikuti rangkaian kegiatan SUIJI yang diselenggarakan dalam dua tahap. Kegiatan pertama berlangsung di Jepang pada Agustus – September 2025, sementara kegiatan kedua dilaksanakan di Imogiri, Bantul pada Februari – Maret 2026.

Selama mengikuti kegiatan di Jepang dua mahasiswa Fapet UGM ini terlibat dalam berbagai aktivitas pembelajaran dan interaksi lintas budaya bersama mahasiswa dari universitas mitra. Menurut Wanodya atau akrab disapa Ayun kegiatan yang dilakukan antara lain berkunjung ke komunitas lokal, mengikuti upacara adat setempat, menjelajahi alam sekitar, melakukan diskusi bertemakan sosial, budaya, serta lingkungan, dan saling bertukar wawasan dan budaya antar kedua negara.

“Selama saya mengikuti program bersama SUIJI di Universitas Kochi, saya mendapat banyak pengalaman baru. Saya dapat merasakan secara langsung kehidupan masyarakat setempat. Tempat program saya yaitu di Kota Otoyo, Prefektur Kochi, komunitas di sana terbilang kecil tapi terasa akrab dan warga di sana menyambut kami dengan sangat baik. Melalui program SUIJI ini saya jadi bisa merasakan bagaimana tinggal di pedesaan (rural area) di Jepang, ” ungkap Ayun, Kamis (12/3).

Sementara itu, kegiatan tahap kedua di Indonesia dilaksanakan di wilayah Imogiri, Bantul, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan ini, mahasiswa UGM, Universitas Ehime, Universitas Kochi, dan Universitas Kagawa bekerja sama dengan masyarakat setempat mengidentifikasi potensi desa sekaligus merancang program yang dapat mendukung pembangunan lokal.

Beberapa kegiatan yang dilakukan di Imogiri antara lain melakukan diskusi terkait masalah pertanian dan peternakan dengan warga, melakukan sosialisasi Bahasa Jepang dengan siswa SD, mengunjungi peternakan domba, mengadakan mini exhibition budaya Jepang, serta melakukan aktivitas seperti membatik, bermain gamelan, dan membuat tempe dan jamu dengan UMKM di sekitar desa. Mahasiswa juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan warga untuk memahami kondisi sosial dan potensi ekonomi lokal.

“Program di Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul merupakan kegiatan yang ditujukan agar mahasiswa Jepang juga dapat merasakan kehidupan lokal di Indonesia. Teman-teman dari Jepang sangat senang dengan kegiatan yang dilakukan, terlebih karena program dilakukan saat bulan Ramadan, mereka bercerita bahwa pengalaman ini sangat berkesan dan tidak akan mereka rasakan di Jepang,” tambahnya.

Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, serta kepekaan terhadap permasalahan masyarakat. Selain itu, pengalaman internasional seperti SUIJI juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam pembangunan global di masa depan.

Program SUIJI sendiri telah menjadi salah satu platform kolaborasi internasional antara Indonesia dan Jepang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar bersama sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di masing-masing negara.

 

Sumber: Wanodya

Editor: Satria

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses