Dua mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Priyo Adi Putro dan Billy Steven Tarigan, tengah memulai menjalani program magang di Crest Co., Ltd., Jepang. Pengalaman mereka tidak hanya memperkaya keterampilan teknis di bidang perunggasan, tetapi juga melatih mental, kedisiplinan, dan kemampuan adaptasi lintas budaya.
Priyo menceritakan, setibanya di Jepang pada akhir Februari lalu ia bersama rekan-rekannya menjalani masa karantina selama satu minggu di penginapan yang telah disediakan perusahaan. Masa tersebut dimanfaatkan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, mulai dari cuaca, budaya, hingga sistem kehidupan masyarakat Jepang.
“Masa karantina itu jadi waktu penyesuaian awal, termasuk belajar memahami kebiasaan dan ritme kerja di sini,” ujarnya, Rabu (4/3).
Setelah itu, mereka diberangkatkan ke lokasi perusahaan dan menerima berbagai perlengkapan kerja seperti pakaian kerja, sepatu keselamatan, senter, dan topi. Tiga hari beradaptasi di asrama, Priyo mulai aktif bekerja.
Tugas pertamanya adalah tori ire, yakni proses memasukkan ayam baru ke dalam kandang. Selain itu, ia juga bertanggung jawab mengganti filter air, membersihkan tempat pakan sebelum kedatangan ayam baru, memastikan alat pengangkut telur berfungsi dengan baik, serta mengecek ketersediaan air minum.
Menurut Priyo, tantangan terbesar di awal adalah kendala bahasa. “Awalnya cukup kesulitan memahami bahasa Jepang saat bekerja. Tapi seiring waktu kami mulai terbiasa dan bisa menyesuaikan,” katanya. Ia juga menekankan budaya disiplin waktu di Jepang sangat kuat dan menjadi pelajaran penting untuk masa depannya.
Senada dengan Priyo, Billy Steven Tarigan juga merasakan bahwa magang ini menjadi pengalaman berharga, terutama dalam membangun etos kerja. Ia menilai sistem kerja di perusahaan sangat terstruktur dan mengutamakan ketelitian.
Billy mengungkapkan bahwa keterbukaan para pekerja lokal sangat membantu proses belajar.
“Kami tidak sungkan untuk bertanya jika belum paham. Mereka terbuka dan membimbing dengan sabar, sehingga kami bisa cepat belajar,” ujarnya.
Bagi keduanya, magang di Jepang bukan sekadar praktik kerja lapangan, melainkan proses pembentukan karakter, mulai dari disiplin, tanggung jawab, hingga kemampuan beradaptasi dalam lingkungan internasional.
Sumber: Priyo
Editor: Satria