Raih Doktor Usai Teliti Ekoefisiensi Peternakan Sapi Perah di Sleman

Keterbatasan akses peternak terhadap sumber daya input terbarukan berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas. Untuk itu, optimalisasi pemanfaatan biogas, introduksi rumput unggul, serta efisiensi penggunaan input menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan sekaligus menekan pencemaran lingkungan.

Hal ini dikemukakan oleh Meita Puspa Dewi saat mempertahankan disertasinya yang berjudul “Ekoefisiensi Sumber Daya Input pada Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kabupaten Sleman Yogyakarta.”, Jumat (13/2).

Ujian ini dipimpin oleh tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Tri Anggraeni Kusumastuti, S.P., M.P., IPM. selaku promotor, Prof. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. selaku ko-promotor, serta Ir. Andriyani Astuti, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP., dan Prof. Ir. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt., M.Si., Ph.D. sebagai penguji.

Meita menjelaskan penelitiannya bertujuan mengidentifikasi pemanfaatan sumber daya input, mengukur tingkat efisiensinya, menganalisis daya dukung pakan, serta merumuskan strategi optimal dalam pengelolaan peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Sleman. Penelitian dilakukan pada 280 peternak di Kecamatan Cangkringan dan Pakem dengan pendekatan analisis ekoefisiensi dan Decision Tree Analysis.

Hasil penelitian yang dilakukan Meita menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kotoran ternak masih relatif rendah, yakni 27,69% pada kelompok kepemilikan ≤5 ekor dan 42,35% pada kelompok >5 ekor. Selain itu, penggunaan air pada peternakan sapi perah tercatat jauh di bawah standar ideal 970 liter/UT/hari, yang mengindikasikan adanya inefisiensi dalam pengelolaan sumber daya.

“Pendekatan ekoefisiensi tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi susu, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan,”katanya.

Menurutnya, prinsip doing more with less perlu diimplementasikan secara nyata dalam sistem peternakan rakyat. Ke depan penelitiannya ini diharapkan dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pengembangan peternakan sapi perah rakyat di Sleman, sekaligus mendukung praktik peternakan yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing.

 

Penulis: Satria

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses